Articles on Kecerdasan buatan
Displaying 1 - 20 of 61 articles
Chatbot AI memperlakukan tafsir sebagai “teks mati” sehingga rentan kesalahan. Karena itu, tafsir perlu kembali diposisikan sebagai “teks hidup” yang terhubung dengan sumber dan tradisinya.
Indonesia dengan sukarela memberikan data masyarakatnya kepada Amerika Serikat demi mendapat tarif masuk 19%.
Salah sasaran adalah masalah klasik bantuan sosial yang kini mau diatasi dengan AI oleh pemerintah Indonesia. Tapi ada masalah klasik lain yang berisiko menghambat penerapan AI dalam bantuan sosial Indonesia.
Teknologi gen AI kini mampu mereplikasi wajah, suara, ekspresi, bahkan karakter kreatif seseorang dengan tingkat kemiripan yang sulit dibedakan dari realitas. Apa risikonya?
Kalau sudah ada AI, kenapa repot-repot belajar bahasa Asing? Ini penjelasannya.
Keterbatasan radiolog menghambat deteksi TB di Indonesia. CAD berbasis AI bisa menjadi solusi untuk mendeteksi TB yang sama akurat dan konsisten dengan radiolog.
Jawaban chatbot AI soal isu kesehatan bisa terdengar meyakinkan. Namun, riset terbaru menunjukkan jawabannya kerap menyesatkan.
Gambar AI Donald Trump yang menampilkan dirinya menyerupai Yesus menuai kecaman luas dan dianggap sebagai penistaan agama. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan penistaan agama?
Kepercayaan nasabah jadi tantangan besar di 2026. Perbankan harus segera bertransformasi dan memanfaatkan AI untuk memperkuat posisinya sebagai jangkar finansial yang aman bagi seluruh masyarakat.
Agen AI OpenClaw menjanjikan efisiensi tinggi, tetapi juga membuka risiko besar bagi privasi dan keamanan data. Artikel ini mengulas celah teknis, keterbatasan UU PDP, dan urgensi regulasi siber.
Kehadiran program televisi berbasis AI menawarkan inovasi visual, tetapi juga memicu kritik tentang kreativitas, pergeseran kuasa, dan terpinggirkannya seniman.
Beberapa pekerjaan di parlemen bisa dieksekusi oleh AI. Bisakah teknologi menggantikan anggota dewan?
Mulai bermunculan kasus penyalahgunaan Generative AI. Indonesia bisa meraih keuntungan dari teknologi ini tapi harus tetap memitigasi potensi ancamannya.
Di era ketika AI mampu menghitung segalanya, tugas guru adalah mengajarkan siswa untuk berpikir, bernalar, dan menemukan makna di balik simbol dan rumus.
Para pendukung AI menjanjikan masa depan dengan kemakmuran yang hampir tak terbayangkan. Ada alasan kuat untuk bersikap skeptis.
Meningkatkan kesadaran masyarakat soal penanganan trauma di masa kecil bisa pakai AI. Namun, bagaimana agar penerapannya tepat sasaran?
Dampak penggunaan AI ditentukan oleh penggunanya, bukan teknologinya.
Bergantung pada pola dari preferensi pengguna bikin AI rentan bias dan salah diagnosis. Ini alasan konsultasi psikologis tetap harus ke psikolog dan psikiater.
Mampu menggunakan tools AI kini jadi sama pentingnya dengan menggunakan aplikasi kantor lainnya. Kuncinya ada pada membuat prompt yang baik lengkap dengan konteks, perspektif, gaya, dan tugas.
Chatbot AI kerap menjadi teman curhat anak muda, bahkan menjalin hubungan emosional. Ketergantungan ini dapat mengganggu realitas dan menyebabkan gangguan mental.



















