Blog

Riset itu keren, tapi harus disebarluaskan!

Peserta pelatihan menulis artikel ilmiah populer TCID bersama IOJI, LeIP, dan ICEL.

Banyak penelitian luar biasa yang bisa mengubah kebijakan dan menginspirasi perubahan, tetapi sering kali hanya tersimpan di jurnal akademik atau laporan tahunan yang nyaris tak tersentuh publik. Padahal, riset yang kuat tidak cukup hanya diteliti, melainkan juga harus dikomunikasikan agar bisa menjangkau lebih banyak orang dan membawa dampak nyata.

Menulis dan berbicara di depan publik merupakan dua kunci agar riset tidak hanya beredar di kalangan akademisi, peneliti, atau organisasi serupa, tetapi juga bisa memengaruhi kebijakan, industri, dan masyarakat luas. Sayangnya, banyak peneliti merasa kesulitan menyampaikan temuan mereka dalam bahasa yang menarik dan mudah dipahami. Tanpa keterampilan ini, riset yang berharga bisa saja terabaikan. Inilah mengapa kemampuan menulis ilmiah populer dan berbicara dengan percaya diri di ruang publik menjadi semakin penting.

Peserta pelatihan menulis artikel ilmiah populer TCID.

Menjadikan Riset Lebih Dekat dengan Masyarakat

Banyak peneliti memiliki riset yang berharga, tetapi tantangan terbesar mereka adalah menerjemahkannya ke dalam bahasa yang lebih mudah dipahami tanpa kehilangan esensi ilmiahnya. The Conversation Indonesia (TCID) bersama Indonesia Ocean Justice Initiative (IOJI), Lembaga Kajian dan Advokasi Independensi Peradilan (LeIP), dan Indonesian Centre for Environmental Law (ICEL) berupaya menjembatani kesenjangan ini dengan mengadakan pelatihan menulis ilmiah populer.

Sebagai bagian dari upaya ini, pada 21 November 2024, TCID menjadi mitra utama dalam pelatihan menulis yang diadakan di kantor IOJI, Jakarta. Dalam workshop ini, TCID tidak hanya memberikan materi tentang teknik penulisan ilmiah populer, tetapi juga menyediakan sesi coaching bagi peserta untuk mengembangkan tulisan mereka. Pelatihan ini menjadi wadah bagi para peneliti untuk mengasah kemampuan menyampaikan riset mereka secara lebih efektif kepada publik.

“Saya terbiasa menulis dengan sangat deskriptif untuk hasil penelitian dan sangat kesulitan untuk menyingkat tulisan. Selalu ada kekhawatiran informasi yg ingin saya sampaikan tidak tersampaikan dengan baik apabila menulis secara singkat.” ungkap Muhammad Tanziel Aziezi dari LeIP.

Dari pelatihan ini, muncul 22 usulan artikel yang menunjukkan bahwa semakin banyak peneliti ingin membagikan gagasannya kepada publik. Tidak hanya itu, kesempatan lanjutan dalam sesi coaching 1:1 dengan editor TCID memberikan ruang bagi peserta untuk memperdalam tulisan mereka. Dampaknya, pascapelatihan ini, artikel yang menjadi ide peserta menjadi lebih tajam, lebih relevan, dan lebih siap menjangkau audiens luas, membuka peluang lebih besar bagi riset untuk memengaruhi kebijakan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Peserta pelatihan public speaking melakukan presentasi.

Dari Ruang Riset ke Panggung Publik

Tak hanya menulis, kemampuan berbicara di depan publik juga menentukan sejauh mana sebuah riset bisa memengaruhi perubahan. Banyak peneliti memiliki gagasan brilian, tetapi kesulitan menyampaikannya dengan jelas dan meyakinkan. TCID kembali berperan sebagai mitra utama dalam pelatihan public speaking yang berlangsung pada 6 Februari 2025, bekerja sama dengan IOJI, LeIP, dan ICEL.

Dalam pelatihan ini, peneliti dibekali keterampilan menyusun narasi yang menarik, memahami audiens, serta menyampaikan pesan dengan percaya diri. Dengan pendekatan yang interaktif dan berbasis praktik, peserta tidak hanya belajar teori tetapi juga langsung mempraktikkan cara berbicara yang lebih efektif dan berdampak.

“Workshop Public Speaking ini tidak hanya memberikan tips-tips baru atau kesempatan berlatih public speaking bagi saya, tetapi juga memberi pengetahuan baru tentang bagaimana menyusun argumentasi dan narasi singkat yang sesuai dengan sasaran audiens saya,” kata Johanna Poerba, peneliti dari LeIP.

November tahun lalu, TCID juga memberikan pendampingan intensif bagi Fadilla Octaviani dari IOJI dalam mempersiapkan presentasinya di forum internasional. Dengan struktur pidato yang lebih kuat dan strategi penyampaian yang lebih efektif, ia kini lebih siap menyampaikan gagasannya di panggung global. Ini menunjukkan bahwa dengan pelatihan yang tepat, peneliti Indonesia bisa lebih percaya diri menyuarakan riset mereka dan berkontribusi dalam percakapan internasional.

Tak sedikit peneliti yang merasa ragu atau canggung ketika harus berbicara di hadapan banyak orang, apalagi di forum internasional. Namun, pelatihan ini membuktikan bahwa dengan latihan dan strategi yang tepat, mereka bisa tampil lebih percaya diri. Kemampuan public speaking bukan hanya soal berbicara lancar, tetapi juga tentang bagaimana menyampaikan pesan dengan jelas, menarik, dan berdampak bagi audiens yang lebih luas.

Sesi diskusi kelompok dalam workshop TCID.

Saatnya Ilmu Tidak Hanya Didiskusikan, tapi Didengar dan Disebarluaskan

Ilmu pengetahuan yang hebat tidak hanya ditulis atau dibahas dalam laporan tahunan, seminar tertutup, atau hasil kajian semata, tetapi juga harus menjangkau lebih banyak orang, menginspirasi, dan memantik perubahan. Ketika riset dapat disampaikan dengan jelas dan menarik, dampaknya bisa lebih luas, mulai dari kebijakan hingga kesadaran masyarakat.

TCID akan terus menjadi ruang bagi peneliti untuk berbagi dan memastikan ilmu pengetahuan hadir dalam percakapan publik. Dengan semakin banyaknya peneliti yang bisa menulis dan berbicara dengan percaya diri, kita membuka jalan bagi penelitian yang lebih berdampak dan lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.


Ingin belajar menulis dan berbicara lebih efektif untuk membawa risetmu ke audiens yang lebih luas? Bergabunglah dengan pelatihan TCID dan dapatkan pendampingan langsung dari para editor dan ahli. Hubungi kami di kemitraan@theconversation.com untuk informasi lebih lanjut.

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 233,400 academics and researchers from 5,619 institutions.

Register now