Articles on Ukraina
Displaying all articles
Perseteruan Trump dan Zelenskyy berisiko mengubah sikap AS terhadap Ukraina dan memengaruhi hubungan AS dengan Eropa secara umum.
Negara Barat tampaknya mulai kehilangan semangat untuk membela Ukraina dan akan mendorong Ukraina untuk kembali ke meja perundingan.
Di Indonesia, narasi pro-Rusia berkaitan dengan keyakinan konspiratif antisemit (prasangka negatif atau kebencian terhadap orang Yahudi).
Presiden Rusia telah “terluka parah” oleh pertunjukan pemberontakan terbuka ini. Masih harus dilihat apakah Ukraina dapat memanfaatkan kelemahan ini.
ICC, walaupun memiliki kewenangan, masih menerapkan standar ganda, terutama pada negara-negara besar. Padahal, putusannya bisa berdampak luas bagi Rusia dan banyak negara di seluruh dunia.
Hubungan Cina dan Rusia terlihat rumit. Tetapi keputusan Cina untuk mendukung Rusia dalam perang di Ukraina pada akhirnya bermuara pada kepentingan politik Cina sendiri.
Demokrasi konstitusional Ukraina mensyaratkan kesepakatan perdamaian apa pun untuk diratifikasi oleh rakyatnya. Jika rakyat diabaikan, peluang mewujudkan kesepakatan damai akan jauh lebih kecil.
Banyak pemimpin dunia, termasuk Vladimir Putin, dituding memplagiasi disertasi S3 mereka. Keputusan untuk mundur, menyangkal, atau mengabaikan tudingan tersebut mencerminkan karakter negara mereka.
Kehadiran ibu negara dalam kegiatan diplomatik menunjukkan adanya norma-norma feminin di tengah arena politik internasional – yang saat ini masih didominasi laki-laki dan bercorak maskulin.
Ini pertama kalinya Rusia, Cina dan negara-negara Barat bertemu tatap muka sejak perangh Ukraina dimulai. Pertemuan tersebut tidak berjalan dengan baik.
Hasil pertemuan Jokowi dengan Putin dan Zelenskky bagi kepentingan global memang belum jelas, tapi paling tidak, dapat mengakomodir kepentingan domestik Indonesia – serta Jokowi sendiri.
Penggunaan rudal hipersonik Rusia di Ukraina telah menempatkan senjata dalam berita. Versi generasi berikutnya yang sedang dikembangkan dapat secara dramatis mengubah keamanan nasional dan global.
Banyaknya akademisi dan mantan diplomat yang cenderung pro-Rusia menunjukkan kurangnya simpati terhadap Ukraina. Sentimen tersebut perlu diubah.
KTT G20 merupakan momentum bagi Indonesia untuk dapat menjadi mediator perdamaian bagi pihak-pihak yang terlibat dalam konflik Rusia-Ukraina.
Sebagian besar negara-negara kecil di Eropa Timur melihat Rusia sebagai pihak yang paling bertanggungjawab terhadap penderitaan dan kesengsaraan mereka selama pendudukan Uni Soviet.
Hak dan kemudahan untuk mencari suaka di Eropa yang didapat pengungsi Ukraina tidak dirasakan oleh pengungsi lain yang datang dari luar Eropa.
Sejarah dan kronologi hubungan Rusia-NATO-Ukraina justru menunjukkan bahwa NATO bukanlah isu utama di balik invasi Rusia terhadap Ukraina.
Usaha Uni Eropa untuk mengurangi pengaruh Rusia di kawasan melalui sanksi ekonomi tidak efektif menekan agresivitas Rusia karena juga akan merugikan negara-negara pemberi sanksi.
Indonesia juga harus jeli melihat peluang ekonomi yang dapat terjadi sebagai implikasi dari konflik kedua negara tersebut.

















