Articles on Erupsi
Displaying all articles
Bagi warga Pulau Sebesi, erupsi Anak Krakatau bukan sekadar ancaman bahaya, melainkan bagian dari ruang hidup. Pengalaman dan memori bencana membentuk budaya kesiagaan unik berbasis kearifan lokal.
Mindfulness dapat membantu menghadapi derasnya berita buruk, tetapi empati penting karena tidak semua orang punya jarak yang sama dari krisis.
Citra satelit memperlihatkan drastisnya dampak erupsi Anak Krakatau di Pulau Sertung. Perubahan warna vegetasi ini membuka laboratorium alam baru bagi pengamatan awal pembentukan tanah.
Dari berita menakutkan hingga unggahan ulang video erupsi, riset terbaru mengungkap bagaimana kesalahpahaman umum dapat memicu penyebaran misinformasi tentang gunung api.
Gunung Merapi melepaskan awan panas pada tanggal 11 Maret 2023 kemarin. Erupsi kali ini diwarnai dengan longsoran kubah lava yang memicu kenaikan status siaga dari level II (waspada) ke level III (siaga…
Kombinasi kajian ilmiah dan pengetahuan lokal serta pemanfaatan sumberdaya alam lokal sangat penting dalam proses percepatan pemulihan lahan pertanian paska erupsi gunung berapi
Salah kaprah media dan berbagai lembaga pemerintah terjadi karena kesulitan membedakan karakter ancaman primer dan ancaman sekunder, dan implikasinya pada sistim peringatan dini yang holistik
Letusan Semeru sudah sering terjadi sejak awal abad ke-19. Siklus aktif selama 7-28 tahun dan dorman 6 sampai 28 tahun berulang sampai sekarang.
Gunung berapi memberikan banyak petunjuk yang membantu para ilmuwan memprediksi kapan akan terjadi letusan.
Ilmuwan menemukan metode baru untuk membantu memprediksi kapan gunung berapi meletus berdasarkan data yang diolah dari letusan tahun lalu di Hawaii.
Di Anak Krakatau, massa besar yang meluncur dengan cepat yang menghantam air menyebabkan tsunami. Jenis peristiwa ini biasanya sulit diprediksi.
Prediksi gunung meletus untuk menghindari jatuhnya korban.
Dengan mengetahui interval letusan dari riset yang intensif, volkanolog dapat menggambarkan pola letusan dan memprediksi kekuatan letusan. Termasuk mengantisipasi dampak letusan.
Sampai akhir November, ketergantungan Bali terhadap pariwisata mendorong Bali Tourism Board mengabaikan risiko bahaya letusan Gunung Agung. Ini merusak reputasi Bali sebagai destinasi pariwisata.












