Articles on Bencana
Displaying 1 - 20 of 77 articles
Selain yang bisa didata oleh angka, Karhutla juga menghancurkan hal-hal yang tidak terlihat. Semisal, ruang tempat budaya dibentuk, dirawat dan diwariskan.
Pelajaran behavioral science tentang bagaimana manusia mengambil keputusan ketika menghadapi bencana—dan mengapa memahami perilaku penting untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa.
Fatalisme bukanlah karakter bawaan masyarakat. Sikap tersebut sering kali terbentuk akibat kegagalan sistem mitigasi dan absennya negara.
Sumbu Filosofi menghadapi ancaman gempa dan lahar dingin Merapi, sementara kolaborasi masih didominasi pemerintah-warga. Ini membutuhkan optimalisasi Danais, dan akses Dana Abadi Kebudayaan.
CC BY46.5 MB (download)
Anak-anak dan orang muda, terutama dari masyarakat miskin, adalah kelompok paling terdampak krisis iklim. Mereka akan mengalami fenomena slow onset climate change, di mana dampak perubahan iklim tidak langsung terasa sekaligus, tetapi terjadi sedikit demi sedikit dalam rentang waktu yang panjang.
Modifikasi cuaca melalui penyemaian awan biasanya dilakukan untuk memindahkan hujan ke daerah ‘aman’. Tapi efektivitasnya diragukan. Dan sejauh ini pemerintah belum terlihat memperhitungkan dampaknya ke nelayan dan petani daerah tersebut yang mengandalkan kepastian cuaca untuk mencari nafkah.
Deforestasi Indonesia meningkat tajam. Tiga provinsi di Sumatera yang mengalami bencana longsor-banjir dahsyat pada penghujung 2025, mengalami lonjakan deforestasi sangat besar.
Idulfitri di depan mata, tapi warga Aceh masih bergelut dengan lumpur dan banjir. Mengapa rencana pemulihan bernilai triliunan rupiah tak kunjung membuat rakyat merasa aman di rumah sendiri?
Inilah ‘toxic masculinity’, ketika pemerintah merasa jadi ‘bapak’ yang berusaha keras mengendalikan semuanya, padahal kapasitas materialnya dalam melindungi warga dipertanyakan.
Ketika pemerintah tak bisa diandalkan dalam mitigasi banjir, apa yang harus dilakukan warga untuk mencegah penularan penyakit?
Pemulihan pascabencana bukan sekadar membangun kembali wilayah yang rusak, tetapi membangun wilayah yang lebih aman, tangguh, dan berkelanjutan.
Pemerintah tak cukup hanya sekadar mencabut izin perusahaan penyebab banjir Sumatra, perlu reformasi tata kelola dan memastikan pemulihan lingkungan sepenuhnya.
Peristiwa traumatis yang dialami langsung maupun didengar lewat media dapat mengganggu kesehatan mental anak. Ini cara mendampingi mereka untuk melewati masa sulit.
Bencana bukanlah peristiwa netral gender. Perempuan tetap jadi kelompok paling terdampak, tapi tidak terlibat dalam pengambilan keputusan.
Lumpur dan sedimen sisa banjir sering dibuang kembali ke sungai, padahal praktik ini membuat sungai semakin dangkal dan memperbesar risiko banjir berulang.
Masjid bisa dimanfaatkan sebagai pos layanan kesehatan darurat ketika faskes lumpuh.
Seribu lebih nyawa melayang di tengah anggaran bencana Sumatra yang tekor 15 kali lipat. Pemerintah gagap, dana darurat diabaikan, namun bantuan asing tetap ditolak. Mismanajemen berisiko membawa Sumatra ke ambang krisis kemanusiaan.
Dalam situasi bencana, kampus bisa berperan bukan sekadar di tahap edukasi dan kesiapsiagaan, tetapi juga pada fase tanggap darurat.
Indonesia tidak lagi bebas siklon tropis. Kita membutuhkan sistem peringatan dini serta mitigasi bencana yang lebih serius.
Ketika badai Senyar melanda Aceh, warkop menjadi satu-satunya titik yang berpenerang, sekaligus menjadi ruang di mana koneksi sosial yang terputus perlahan tersambung kembali.



















