Articles on refleksi pendidikan
Displaying 1 - 20 of 89 articles
Mengganti buku teks tanpa kajian memadai berpotensi menjadi kebijakan yang mahal dan merepotkan, tanpa manfaat yang sepadan. Mengapa?
Pemerintah dinilai lebih fokus mengejar program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang masih menuai kritik, ketimbang membenahi jutaan ruang kelas sekolah yang rusak dan tidak aman bagi siswa.
Temuan riset mengungkapkan bahwa distribusi makanan yang tidak sesuai jadwal serta menumpuknya tugas baru bagi guru justru mengganggu kelancaran proses belajar-mengajar.
Saat memilih ‘daycare’, orang tua perlu melihat lebih jauh dibanding sekadar tampilan fisik. Apa saja yang perlu diperhatikan?
Revisi UU Sisdiknas perlu menengok ulang kebijakan wajib belajar 13 tahun, alokasi anggaran 20%, dan perlindungan di lingkungan belajar. Mengapa?
TKA dapat meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia jika tidak diposisikan sebagai “hakim” tapi sebagai “stetoskop” yang mendiagnosa apa yang kurang dalam sistem pendidikan kita.
Sekolah Garuda belum mampu menjawab persoalan utama pendidikan Indonesia, yaitu rendahnya kualitas pembelajaran massal.
Riset terbaru menunjukkan bahwa asal-usul sosial menentukan prestasi belajar. Ketimpangan ini tampak jelas antara kota dan desa, sekolah negeri dan swasta, serta kelompok kaya dan miskin.
Tutor, pamong belajar, dan pendidik nonformal masih diperlakukan secara tidak adil oleh negara. Padahal profesi mereka tidak kalah kompleks dibandingkan guru formal.
Tantangan utama dalam pemanfaatan AI untuk pendidikan inklusif di Indonesia mencakup aksesibilitas di wilayah terpencil serta rendahnya literasi digital di kalangan tenaga pendidik.
Pemerintah berencana menerapkan kurikulum AI. Tapi tanpa pelatihan yang komprehensif, program ini justru berisiko menciptakan pembelajaran yang superfisial dan bahkan menyesatkan.
Mengorbankan pendidikan demi efisiensi jangka pendek justru dapat merugikan negara dalam jangka panjang, baik dari segi ekonomi maupun sosial. Mengapa demikian?
Kasus PDSS menunjukkan betapa kebijakan pendidikan kita masih terjebak dalam urusan administrasi yang berbeli-belit dan belum berpihak pada keadilan serta pemerataan pendidikan. Mengapa?
Pendekatan kolaborasi dengan mendesain bersama (‘co-design’) memiliki potensi besar untuk menjadi solusi atas berbagai tantangan dunia pendidikan di Indonesia.
Indeksasi jurnal tidak semestinya menjadi ukuran tunggal dari kinerja penelitian. Sistem evaluasi harus dilengkapi dengan indikator yang menempatkan dampak penelitian sebagai prioritas utama.
Riset menunjukkan bagaimana pemerintah, melalui Buku Teks Sekolah Dasar Tematik Terpadu Kurikulum 2013, menggambarkan identitas Papua secara stereotipikal.
Praktik inklusi disabilitas mustahil dapat berjalan baik tanpa keterlibatan penyandang disabilitas itu sendiri. Karena itu, mahasiswa penyandang disabilitas perlu dilibatkan dalam pembuatan keputusan.
Jika UN kembali diberlakukan, pembuat kebijakan, profesional di bidang pengujian, dan pengguna hasil UN harus berkolaborasi untuk meminimalisir dampak negatifnya.
Pemahaman guru terhadap perubahan iklim masih terbatas. Namun, pengalaman langsung terkait dampak perubahan iklim membuat mereka antusias untuk menerapkan pendidikan perubahan iklim di sekolah.
Guru perlu merasa aman dan nyaman saat mengajar karena keberadaan guru yang sejahtera secara fisik maupun mental penting sebagai kunci utama keberhasilan pembelajaran siswa.



















