Articles on Emisi
Displaying 1 - 20 of 37 articles
Indonesia tidak akan mampu membangun industri hijau jika tiap sektor masih jalan masing-masing
Sebagian besar emisi karbon berasal dari perusahaan dan sektor industri berbasis bahan bakar fosil (seperti minyak, gas, batu bara, dan semen), sehingga perubahan perilaku individu saja—misalnya membawa tumbler—tidak cukup menyelesaikan masalah.
Potensi besar energi terbarukan desa disia-siakan. Transisi energi belum memberikan manfaat yang adil bagi masyarakat desa.
Keamanan teknologi penyimpanan karbon sangat bergantung pada pemantauan dan pemilihan lokasi yang ketat.
Menghindari skenario terburuk iklim bukanlah kesalahan ilmu pengetahuan seperti tuduhan skeptis Donald Trump, melainkan bukti keberhasilan aksi iklim.
Krisis minyak global memaksa Indonesia untuk terus melakukan transformasi energi nasional. Salah satu opsi yang potensial dan rasional adalah EV.
Dalam konteks krisis energi, setiap kilometer jalur sepeda yang dibangun adalah investasi untuk mengurangi konsumsi BBM. Diperlukan infrastruktur memadai agar sepeda menjadi opsi moda transportasi utama.
Program JETP senilai Rp338,2 triliun belum memberikan hasil signifikan. Penelitian menunjukkan bahwa dana tersebut dialihkan untuk studi kelayakan dan kepentingan donor, bukan energi hijau lokal.
Geotermal berpotensi menjadi pembangkit baseload pengganti batu bara. Namun, proyek ini banyak mendapat penolakan warga karena konflik lahan dan mencemari air.
Kesepakatan memang tercapai, tetapi beberapa elemen penting justru hilang dalam COP 30.
Makan Bergizi Gratis (MBG) banyak yang berujung menjadi sampah karena
menu yang tidak sesuai selera anak atau makanan yang kurang segar.
Dengan masuk ke pasar karbon global, Indonesia berpotensi terjebak menjadi penyedia jasa lingkungan murah untuk menghapus dosa-dosa iklim negara maju.
Indonesia masih andalkan perdagangan karbon menjelang COP30. Perlu belajar dari kegagalan sistemik pasar karbon global, sebaiknya fokus ke energi terbarukan.
Mundurnya AS dari Perjanjian Paris tak menyetop upaya global dalam memerangi perubahan iklim. Sebaliknya, jelang COP30 pemimpin-pemimpin baru mulai mengambil peran.
Menjelang COP 30, sejumlah negara belum juga menyerahkan pembaruan aksi iklim nasional atau second NDC kepada UNFCC, ternasuk Indonesia.
Mengapa streaming tanpa tujuan sebaiknya dihindari karena menggunakan video membutuhkan jauh lebih banyak energi daripada hanya audio.
Kaum elite mulai dari Bahlil Lahadalia hingga Taylor Swift berkontribusi lebih banyak atas pemanasan global. Golongan mereka, terutama dari negara maju, menyumbang dua pertiga dari emisi gas rumah kaca dunia yang memicu perubahan iklim.
Tingginya aktivitas digital Indonesia ditopang energi fosil, menciptakan jejak emisi karbon signifikan yang menjadi tantangan bagi pencapaian target iklim nasional.
Tanpa transisi ke energi terbarukan, kendaraan listrik tidak akan bisa menurunkan emisi.
Indonesia berpeluang untuk terus mengembangkan pasar karbonnya. Namun, perdagangan karbon tidak boleh menjadi alasan untuk mengkompensasi penggunaan bahan bakar fosil terus menerus.



















