Articles on Riset
Displaying 101 - 115 of 115 articles
Saatnya SINTA tidak hanya berhenti sebagai repositori sitasi dan kepakaran, tapi juga menjembatani kubu riset dan kebijakan untuk mengatasi masalah bersama.
Mengapa menulis di jurnal internasional membuat banyak dosen gamang? Dan apakah publikasi merupakan ukuran yang baik untuk mengukur kinerja peneliti?
Yang paling ganjil dari pemeringkatan Quacquarelli Symonds adalah komponen jumlah sitiran karya ilmiah.
Untuk mengembalikan kredibilitas sains, maka peneliti harus terbuka – mulai dari asumsi awal, prosedur pengambilan dan analisis data, data mentah, sampai pada kemungkinan adanya konflik kepentingan.
Sektor publik Indonesia harus menghadapi beberapa tantangan agar dapat merancang kebijakan yang lebih baik.
Pembaharuan kebijakan dapat dilakukan dengan menyediakan ruang bagi pengetahuan untuk berkontestasi terhadap suatu rancangan kebijakan. Ini agar rumusan kebijakan berbasis bukti, bukan wangsit.
Peneliti negara maju harus melibatkan peneliti lokal, dan bukan hanya mengambil sampel dari negara-negara berkembang.
Dia membangkitkan riset biologi molekuler melalui Lembaga Eijkman.
Sangkot Marzuki berupaya memperbaiki ekosistem ilmu pengetahuan yang total rusak. Sebab orang meneliti di perguruan tinggi hanya untuk naik cum dan naik pangkat. Sistem harus dirombak.
Pembuat kebijakan seharusnya lebih baik mengkomunikasikan kebutuhan mereka kepada para peneliti. Dan peneliti seharusnya menyadari program dan area yang menjadi prioritas utama pemerintah.
Hadiah Ig Nobel Ig memberi hadiah pada riset yang membuat Anda tertawa, lalu berpikir. Menyelidiki meme di internet tentang kucing yang tampak cair cocok dengan Ig Nobel.
Belum lama ini dua peneliti menuliskan artikel kontroversial di jurnal bergengsi Science bahwa kanker hanya perkara nasib buruk. Apa iya? Lantas apakah ada gunanya kita bergaya hidup sehat?
Jumlah publikasi ilmiah di Indonesia mulai menunjukkan laju pertumbuhan yang menjanjikan. Tetapi masih banyak ketinggalan yang harus dikejar.
Kampus masih lemah dalam berhadapan dengan kekuasaan politik. Sistem warisan Orde Baru menyisakan luasnya kontrol negara terhadap universitas.
Peneliti sosial Indonesia tertinggal dalam hal riset yang bisa membantu menjelaskan gejala di masyarakat. Peneliti yang berhadapan dengan mekanisme pasar menjadi salah satu penyebab.
Jumlah publikasi ilmiah Indonesia meningkat terus dan menyalip Thailand. Ini kabar baik. Tapi daripada bersaing dengan negara ASEAN, Indonesia butuh kolaborasi dalam meningkatkan mutu pendidikan.














