JAKARTA, AFU.ID — Eskalasi konflik geopolitik yang makin memanas di kawasan Timur Tengah memicu gejolak besar pada pasar energi global. Melonjaknya harga minyak mentah dunia yang kini menembus ambang psikologis US$100 per barel memberi tekanan ganda bagi perekonomian nasional. Selain mengancam pembengkakan beban kompensasi subsidi pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), gejolak ini juga membuka potensi kenaikan drastis harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi hingga menyentuh kisaran Rp20.000 per liter.
Di pasar internasional, patokan harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober tercatat melonjak hingga menyentuh level US$100,88 per barel. Mengutip data Reuters, harga minyak jenis Brent turut menguat ke posisi US$108,68 per barel, sementara WTI bertahan di kisaran US$103,45 per barel. Secara kumulatif mingguan, kedua varian minyak mentah utama dunia tersebut mengalami lonjakan tajam mendekati 13 persen, yang menjadi laju kenaikan mingguan tertinggi sejak pertengahan Juli.
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Eko Listyanto, menilai tren kenaikan harga minyak global ini langsung berimbas pada postur keuangan negara, khususnya dalam mempertahankan harga BBM bersubsidi agar tidak naik di tingkat masyarakat. "Meskipun kenaikan harga minyak ini sifatnya temporer dan sangat bergantung dari tensi geopolitik AS-Israel vs Iran, namun tentu akan berdampak ke inflasi, beban kompensasi APBN demi menjaga BBM bersubsidi tidak naik harga, serta inflasi," ujarnya, Minggu (13/9/2026).
"Beberapa upaya untuk memperbaiki kebijakan subsidi BBM ke arah penerima yang sesuai menggambarkan bahwa subsidi BBM ini penting untuk terus diupayakan efisien agar tak membengkakkan APBN saat harga minyak melonjak," tambah Eko.
Eko menambahkan, potensi lonjakan inflasi juga membayangi sektor industri dan rantai distribusi logistik yang mayoritas mengandalkan BBM non-subsidi serta bahan baku turunan minyak bumi seperti plastik. Risiko ekonomi tersebut kian kompleks mengingat situasi alam nasional saat ini tengah berada dalam ancaman fenomena El Nino.
Untuk produk BBM non-subsidi, harga di tingkat konsumen dipastikan akan menyesuaikan dengan mekanisme pasar yang berlaku. Dampak rambatan dari melonjaknya harga minyak mentah ini dikonfirmasi oleh PT Pertamina Patra Niaga. Manajemen memproyeksikan bahwa harga produk BBM non-subsidi kelompok Pertamax hingga Pertamina Dex berpeluang melambung tinggi dalam waktu dekat.
Direktur Pemasaran Ritel PT Pertamina Patra Niaga, Eko Ricky Susanto, mengungkapkan bahwa pemblokiran di Selat Hormuz akibat eskalasi militer di Timur Tengah memicu krisis energi global yang berdampak jauh lebih masif dibandingkan konflik Rusia-Ukraina sebelumnya. "Harga Pertamax, Dex, dan lain-lain itu akan berkisaran antara di angka Rp18 ribu sampai Rp20 ribuan karena tidak ada, belum ada, indikasi terjadi penurunan harga minyak dunia. Perang di Timur Tengah, di Selat Hormuz ini, ternyata dampaknya secara global selain ketersediaan energi di dunia, itu juga harga yang saat ini belum stabil ya," ujar Eko Ricky Susanto saat berbicara dalam perhelatan media gathering di Kabupaten Bantul, Yogyakarta.
Pihak Pertamina berharap tensi geopolitik dapat segera mereda sehingga harga komoditas minyak dunia dapat melandai kembali ke tingkat normal di kisaran US$60 hingga US$70 per barel seperti era sebelum krisis. Namun, apabila harga minyak dunia terus bertahan di atas US$100 per barel, penyesuaian harga BBM non-subsidi hingga mendekati Rp20.000 per liter menjadi konsekuensi logis yang tidak terhindarkan demi menjaga keekonomian dan kelangsungan pasokan energi nasional. (MAR)