JAKARTA, AFU.ID — Dunia seni dan panggung politik Indonesia berduka mendalam. Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra, sang maestro seni, budayawan prolifik, sekaligus putra bungsu pasangan Presiden pertama RI Soekarno dan Fatmawati, tutup usia pada Sabtu, (26/9/2026), pukul 04.16 WIB di RS MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Jakarta, dalam usia 73 tahun. Kepergian Guruh menutup satu babak penting perjalanan keluarga besar Sang Proklamator, meninggalkan warisan ratusan karya tari dan lagu yang abadi di hati masyarakat.
Di tengah suasana duka dan kenangan atas dedikasi hidupnya di dunia seni, memori publik kembali tertarik pada salah satu kisah paling romantis sekaligus misterius dalam hidup sang seniman. Kisah cintanya dengan seorang penari asal Uzbekistan, Guseynova Sabina Padmavati, atau yang lebih dikenal sebagai Sabina Guseynova. Ia anak kedua dari enam bersaudara, hobi menari dan bermain piano klasik sejak kecil. Ayahnya insinyur, ibunya ibu rumah tangga.
Kisah cinta lintas negara ini bermula pada April 2002 di panggung The April Spring Friendship Art Festival di Pyongyang, Korea Utara. Saat itu, Guruh memimpin rombongan kesenian Gencar Semarak Perkasa (GSP), sementara Sabina hadir memukau penonton sebagai salah satu penari dalam delegasi Uzbekistan. Pertemuan di bawah lampu panggung internasional tersebut meninggalkan kesan mendalam bagi Guruh, yang kerap mengaku seolah "kesetrum" saat pertama kali menyaksikan pesona Sabina.
Tak butuh waktu lama bagi Guruh untuk merajut asa. Ia bahkan mengundang Sabina berkunjung ke Indonesia untuk menghadiri Jakarta Fair dan memperkenalkan perempuan muda tersebut kepada kakaknya, Megawati Soekarnoputri, yang kala itu menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia. Gelora cinta yang begitu kuat membuat Guruh mantap melangkah ke jenjang serius. Tepat pada 19 September 2002, Guruh melamar Sabina di tanah kelahirannya di Tashkent, Uzbekistan, dan keduanya resmi menikah keesokan harinya pada 20 September 2002.
Pernikahan pasangan ini sempat menjadi sorotan tajam media nasional maupun internasional. Dengan rentang usia yang cukup jauh—Guruh berusia 49 tahun sementara Sabina baru menginjak usia 22-23 tahun—pernikahan tersebut memancarkan daya tarik tersendiri. Kemegahan berlanjut saat resepsi akbar bernuansa adat Jawa digelar selama dua hari pada 19-20 Oktober 2002 di kediaman bersejarah keluarga Bung Karno di Jalan Sriwijaya Raya Nomor 26, Jakarta Selatan.
Pernikahan pasangan berbeda bangsa itu, dihadiri oleh sekitar 2.500 undangan terhormat. Sabina tampil anggun dan memesona dalam balutan kebaya bernuansa merah hati. Mahar yang diberikan Guruh pun sarat akan nilai historis dan spiritual: seperangkat Al-Qur'an, buku Di Bawah Bendera Revolusi, serta buku otobiografi Bung Karno.
Namun, indahnya panggung pernikahan di Jalan Sriwijaya tersebut ternyata tidak berjalan selamanya. Setelah mengarungi bahtera rumah tangga bersama tanpa dikaruniai buah hati, ikatan cinta antara sang maestro seni dan penari Uzbekistan itu perlahan menemui jalan buntu. Pernikahan mereka kandas dan resmi bercerai pada tahun 2009.
Selepas perpisahan tersebut, Sabina memilih untuk pulang kembali ke negeri asalnya di Uzbekistan dan menarik diri sepenuhnya dari sorotan media massa Indonesia. Jejak hidupnya sempat sayup-sayup terdengar ketika akun media sosial pribadinya memperlihatkan lembaran baru kehidupannya di luar negeri, jauh dari hiruk-pikuk panggung politik dan seni Nusantara.
Sabina sempat mengunggah sedikit foto terkait kehidupan pribadinya. Dalam unggahan di akun ID @sabinaguseynova, dia memperlihatkan foto-foto kedekatannya dengan seorang pria. Tetapi tak lama foto-foto tersebut di setting menjadi privat. Akun Sabina pun belum tampak memberikan tanggapan, reaksi ataupun ucapan bela sungkawa atas wafatnya Guruh. (MAR)