JAKARTA, AFU.ID — Luas daratan Gunung Anak Krakatau kini mencapai 341,5 hektare setelah kembali bertambah akibat akumulasi material erupsi. Luasan tersebut bahkan telah melampaui ukuran tubuh gunung sebelum mengalami longsor dan kolaps pada Desember 2018. Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM Rita Susilawati mengatakan, data tersebut berdasarkan pemantauan citra Satelit Sentinel per 15 September 2026.
Sebelum erupsi dan longsoran pada 22 Desember 2018, luas daratan Anak Krakatau tercatat sekitar 300 hektare per 19 Desember 2018. Namun, keruntuhan sektor barat daya membuat luas daratan gunung tersebut menyusut drastis menjadi 246,18 hektare pada 26 Desember 2018. Setelah itu, material hasil erupsi secara berkelanjutan kembali menambah tubuh gunung. Citra Sentinel per 8 Agustus 2026 mencatat luas daratan Anak Krakatau telah mencapai 312,3 hektare.
Pada fase letusan 4-6 September 2026, kembali terjadi penambahan endapan material erupsi sekitar 32,8 hektare. Akumulasi tersebut membuat total luas daratan Anak Krakatau kini mencapai 341,5 hektare. Pertumbuhan fisik Anak Krakatau sejalan dengan hasil riset kolaboratif BRIN bersama sejumlah lembaga dan universitas, termasuk University of Birmingham, ITB, Penn State University, British Geological Survey, University of Oxford, serta PVMBG. Riset tersebut menunjukkan Anak Krakatau sedang memasuki fase pembangunan kembali atau rebuilding phase.
Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN Dini Nurfiani menjelaskan, perkembangan Anak Krakatau menunjukkan bahwa gunung api merupakan sistem geologi yang dinamis. Pertumbuhannya berlangsung melalui siklus panjang berupa pertumbuhan, erupsi, keruntuhan, hingga pembentukan kembali tubuh gunung. Peristiwa keruntuhan sektor barat daya pada 22 Desember 2018 memuntahkan sekitar 0,116 kilometer kubik material ke laut. Peristiwa itu memangkas ketinggian puncak Anak Krakatau dari sekitar 330 meter menjadi 120 meter dan memicu tsunami di Selat Sunda.
Hilangnya sebagian besar tubuh gunung secara mendadak juga mengubah mekanisme erupsi. Aktivitas yang sebelumnya bertipe Strombolian berubah menjadi Surtseyan yang lebih eksplosif akibat masuknya air laut ke celah kawah. Sejak 2019 hingga 2026, aktivitas erupsi kemudian kembali bertransisi menuju tipe Strombolian, lava fountain, serta pembentukan lelehan lava baru. Material tersebut terus menumpuk di atas kawah pascakolaps dan secara bertahap menambah volume daratan Anak Krakatau.
Meski terus tumbuh, bentuk pertumbuhan Anak Krakatau tidak berlangsung secara simetris. Sektor barat daya tumbuh di atas lereng kaldera bawah laut yang curam, sementara bagian timur laut berdiri di atas dasar laut yang relatif lebih dangkal. Struktur gunung yang tersusun dari penumpukan lava padat dan berat di atas endapan tuf yang ringan dan berpori, ditambah perbedaan tingkat kecuraman lereng, turut memengaruhi kestabilan tubuh Anak Krakatau dalam jangka panjang. Dini mengatakan perubahan perilaku Anak Krakatau menunjukkan bahwa aktivitas gunung api dapat berubah mengikuti perkembangan tubuh gunung, sistem magma, serta kondisi lingkungan di sekitarnya. (EER)