Gunung Anak Krakatau kembali erupsi pada Rabu (9/9/2026), menyemburkan asap dan abu vulkanik hingga ketinggian 2,1 kilometer yang bergerak ke arah Lampung. Pemantauan yang dilakukan oleh tim gabungan menunjukkan bahwa sebaran abu vulkanik berdampak pada kegiatan pendidikan di wilayah tersebut, memaksa siswa untuk melanjutkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) hingga 10 September. Sebagai respons terhadap situasi ini, Pemerintah Provinsi Lampung mengadakan salat Istisqa pada Kamis (10/9/2026) untuk memohon hujan yang diharapkan dapat membantu mengurangi paparan abu vulkanik di udara.
Gunung Anak Krakatau Erupsi, Rabu (9/9/2026). (Instagram/@bpbdlampung)
JAKARTA, AFU.ID — Gunung Anak Krakatau (GAK) masih menunjukkan aktivitas vulkanik pada Rabu (9/9/2026). Dari pemantauan langsung di atas KRI Lepu-861 milik TNI AL sekitar pukul 10.00 WIB, gunung api di Selat Sunda itu teramati menyemburkan asap dan abu vulkanik hingga ketinggian sekitar 7.000 kaki atau 2,1 kilometer.
Pemantauan dilakukan tim gabungan yang terdiri dari Kepala Kesbangpol Lampung, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Lampung, perwakilan BPBD Lampung, Basarnas, dan Institut Teknologi Sumatera (ITERA). Berdasarkan hasil pemantauan visual dan analisis citra RGB Himawari-9, aktivitas erupsi masih teramati. Sebaran abu vulkanik teridentifikasi dari permukaan hingga ketinggian sekitar 2,1 kilometer dan bergerak ke arah barat laut.
"Sebaran debu vulkanik teridentifikasi dari permukaan hingga ketinggian sekitar 7.000 feet atau ±2,1 km dan teramati bergerak ke arah barat laut, mencakup sebagian wilayah Teluk Lampung," jelas BPBD Lampung, Rabu. Aktivitas Anak Krakatau juga tercatat Badan Geologi Kementerian ESDM sebelum pemantauan langsung dilakukan.
Pada pukul 00.47 WIB, terjadi erupsi yang belum dapat diamati secara visual karena kondisi masih malam. Namun, letusan tersebut terekam pada seismograf dengan amplitudo maksimum 51 milimeter dan durasi 28 detik.
Tingginya aktivitas vulkanik Anak Krakatau turut berdampak pada kegiatan pendidikan di Lampung. Siswa di sejumlah wilayah masih menjalani Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) hingga 10 September untuk mengantisipasi paparan abu vulkanik. Pemantauan kondisi gunung terus dilakukan dengan melibatkan sejumlah instansi.
Pendekatan KRI Lepu-861 ke kawasan tersebut dilakukan untuk mendukung pemantauan dengan tetap mengikuti prosedur keselamatan. "Pendekatan KRI Lepu-861 dalam mendukung pemantauan dilakukan atas izin pihak terkait dengan tetap memperhatikan aspek keselamatan serta mengikuti SOP dan ketentuan yang berlaku," kata BPBD Lampung.
Di tengah aktivitas vulkanik tersebut, Pemerintah Provinsi Lampung juga menjadwalkan salat Istisqa atau salat meminta hujan pada Kamis (10/9/2026) pukul 10.00 WIB di Lapangan Korpri, kompleks kantor gubernur. Salat tersebut digelar dengan harapan hujan turun dan membantu meluruhkan abu vulkanik yang berada di udara. Pemprov Lampung mengajak masyarakat berdoa untuk keselamatan dan perlindungan bagi warga di tengah erupsi Gunung Anak Krakatau. (FAD)