JAKARTA,AFU.ID — Menjelang tahun ajaran baru, banyak orang tua kembali dihadapkan pada lonjakan pengeluaran pendidikan. Perencana keuangan sekaligus pendiri DNA Finance Indonesia, Aliyah Natasya, mengingatkan ada tiga kesalahan yang paling sering membuat kondisi keuangan keluarga terganggu, mulai dari menguras dana darurat hingga memilih sekolah di luar kemampuan finansial.
Menurut Aliyah, kebutuhan pendidikan seperti uang pangkal, seragam, buku, hingga perlengkapan sekolah memang datang hampir bersamaan. Namun, persoalan terbesar justru sering muncul karena kurangnya perencanaan, bukan semata-mata besarnya biaya yang harus dibayar. "Dari ratusan sesi konsultasi, saya melihat pola yang sama berulang setiap tahun," kata Aliyah, Kamis (26/6/2026).
Kesalahan pertama yang paling sering terjadi adalah menggunakan dana darurat atau berutang dengan bunga tinggi untuk membiayai kebutuhan sekolah anak. Padahal, dana darurat seharusnya hanya dipakai untuk kondisi yang benar-benar tidak terduga, seperti kehilangan pekerjaan atau keadaan darurat lainnya.
"Dana darurat bukan bank. Ia adalah benteng terakhir keluarga untuk situasi yang benar-benar tidak terduga," ujar Aliyah.
Kesalahan berikutnya ialah menghitung biaya pendidikan secara terlalu sempit. Banyak orang tua hanya menyiapkan uang sekolah dan uang pangkal, tetapi melupakan kebutuhan lain yang nilainya juga tidak sedikit.
Biaya transportasi, laptop atau tablet, kuota internet, les tambahan, hingga kegiatan sekolah seperti study tour kerap tidak masuk dalam perhitungan. Akibatnya, anggaran yang semula dianggap cukup justru membengkak setelah tahun ajaran dimulai.
Aliyah juga mengingatkan agar orang tua tidak memilih sekolah hanya karena gengsi atau keinginan semata. Menurutnya, keputusan tersebut harus disesuaikan dengan kemampuan finansial keluarga dalam jangka panjang.
Ia menilai banyak keluarga memilih sekolah yang "masih bisa diusahakan", bukan yang benar-benar sesuai kondisi keuangan. Pilihan seperti itu berisiko menjadi beban ketika pendapatan keluarga menurun atau kondisi ekonomi berubah. "Saya selalu bilang kepada klien, review kapasitas finansial Anda untuk tiga tahun ke depan sebelum memilih sekolah. Karena sekali masuk, sangat sulit untuk mundur," kata Aliyah.
Karena itu, ia menyarankan orang tua memastikan kemampuan membayar biaya pendidikan secara konsisten, bukan hanya pada tahun pertama. Menurutnya, keputusan memilih sekolah harus mempertimbangkan keberlanjutan keuangan keluarga agar tidak memicu tekanan ekonomi di kemudian hari. "Jangan beli tiket yang tidak bisa kamu bayar sampai stasiun tujuan," tutup Aliyah. (RAI)