AFU.id

Potensi Wisata Belanja Domestik Belum Optimal, Rp118,77 Triliun Mengalir ke Luar Negeri

Bagikan:

Penulis: Adriyan Adirizky RahmatReporter: Adriyan Adirizky R

Ringkasan Berita

Pemerintah Indonesia menghadapi tantangan dalam mengoptimalkan potensi wisata belanja domestik, di tengah pengeluaran wisatawan nasional yang mencapai USD6,7 miliar atau sekitar Rp118,77 triliun untuk perjalanan ke luar negeri pada Semester I-2026. Menteri Koordinator Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan pentingnya mendorong konsumsi lokal melalui aktivitas belanja wisatawan, serta memperluas jaringan ritel yang terhubung dengan produksi dalam negeri untuk meningkatkan kontribusi terhadap perekonomian. Transformasi perdagangan dan integrasi antara konsumen, pelaku usaha, dan sistem pembayaran digital diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah bagi ekonomi nasional dan mengalihkan pengeluaran wisatawan kembali ke dalam negeri.

Potensi Wisata Belanja Domestik Belum Optimal, Rp118,77 Triliun Mengalir ke Luar Negeri
Ilustrasi wisnas yang menikmati wisata belanja di luar negeri. (Foto: Pexels/Tim Douglas)

Wisata Belanja Didorong Terhubung dengan Produksi Dalam Negeri

Lebih lanjut, Menko Airlangga menjelaskan perluasan ritel tak akan memberikan dampak optimal apabila peningkatan transaksi lebih banyak menyerap produk impor. Pemerintah RI pun mendorong keterhubungan antara jaringan ritel dan produsen dalam negeri agar peningkatan konsumsi menghasilkan nilai tambah bagi perekonomian nasional. “Harapannya tentu barang yang didorong di retail itu juga merupakan barang yang diproduksi di dalam negeri,” tuturnya.

Selain memperluas jaringan fisik, sistem pembayaran digital menjadi infrastruktur penting dalam perubahan pola perdagangan. Hingga Juni 2026, Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) telah digunakan 65,77 juta orang dan diterima 44,86 juta merchant. Yang mana, sebanyak 96,68% dari jumlah merchant itu merupakan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Sementara itu, Haryo Limanseto selaku Juru Bicara (Jubir) Kemenko Perekonomian RI menilai transformasi perdagangan harus menghubungkan konsumen, pelaku usaha, produsen, pembayaran, dan distribusi. Integrasi itu sangat penting agar peningkatan aktivitas belanja tak berhenti pada transaksi konsumsi semata. “Dengan ekosistem yang semakin terintegrasi, potensi wisata belanja dan konsumsi domestik dapat memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian nasional,” ujarnya.

Dengan demikian, Pemerintah RI menghadapi tantangan untuk mengubah besarnya mobilitas wisnas menjadi transaksi yang lebih banyak terjadi di dalam negeri. Angka USD6,7 miliar atau Rp118,77 triliun menunjukkan besarnya pengeluaran perjalanan yang saat ini tercatat mengalir ke luar negeri. Jika pengembangan wisata belanja tak beriringan dengan produk domestik yang kompetitif, akses ritel yang luas, serta pengalaman belanja yang menarik, maka peluang mengalihkan konsumsi itu ke ekonomi nasional akan sulit. (ADR)

Berita Terkait

Pilihan Redaksi