JAKARTA, AFU.ID — Kelangkaan bahan bakar minyak melanda sedikitnya 325 stasiun pengisian bahan bakar umum di Sumatera Utara dalam tiga hari terakhir. Antrean kendaraan di berbagai daerah membuat Polda Sumut mengerahkan 786 personel untuk mengantisipasi gangguan keamanan dan potensi kericuhan di SPBU.
Ratusan polisi ditempatkan secara bergantian selama 24 jam di SPBU yang mengalami gangguan pasokan. Pengamanan dilakukan di sejumlah wilayah, termasuk Medan, Binjai, Tebing Tinggi, dan Deli Serdang, agar antrean tetap tertib saat persediaan BBM datang maupun mulai menipis. “Hasil pantauan kami selama tiga hari terakhir, terdapat 325 SPBU yang mengalami kelangkaan BBM,” kata Kepala Biro Operasi Polda Sumut Komisaris Besar Dwi Tunggal Jaladri di Medan, Kamis (16/7/26).
Kelangkaan di ratusan SPBU menunjukkan gangguan distribusi tidak lagi hanya terjadi pada jalur pengiriman dari terminal BBM. Persoalan tersebut telah sampai ke tingkat konsumen, memaksa pengendara menunggu lebih lama dan meningkatkan risiko perselisihan saat kendaraan saling berebut antrean.
Polisi juga mengawal mobil tangki dari fasilitas Pertamina menuju SPBU tujuan. Di wilayah Pelabuhan Belawan, personel ditempatkan sepanjang jalur distribusi agar armada pengangkut tidak terhambat dan pasokan dapat segera disalurkan kepada masyarakat.
Polda Sumut sebelumnya menyebut distribusi terganggu setelah terjadi kekurangan awak mobil tangki. Personel TNI dan Polri yang memiliki kualifikasi mengemudikan truk tangki kemudian diperbantukan untuk menutup kekurangan pengemudi selama Pertamina menyiapkan tenaga pengganti.
Pengerahan aparat sebagai pengemudi, pengawal mobil tangki, hingga penjaga antrean menunjukkan distribusi BBM belum berjalan normal menggunakan sistem operasional Pertamina. Hingga Kamis, belum dijelaskan berapa dari 325 SPBU yang telah kembali mendapat pasokan secara penuh dan kapan pengamanan ratusan polisi akan dihentikan.
Kelangkaan BBM sebelumnya telah memicu antrean kendaraan di sejumlah daerah Sumatera Utara. Polisi kini tidak hanya ditugaskan mempercepat distribusi, tetapi juga memastikan antrean panjang tidak berkembang menjadi kericuhan di tengah masyarakat yang kesulitan mendapatkan bahan bakar.
Normalisasi pasokan tetap bergantung pada kemampuan Pertamina mengoperasikan kembali seluruh armada pengangkut dan mengisi kekurangan awak mobil tangki. Selama distribusi belum pulih, masyarakat masih menghadapi kemungkinan antrean, sementara ratusan polisi harus berjaga untuk menangani dampak persoalan operasional tersebut. (RHU)