JAKARTA, AFU.ID — Nama Krakatau telah melintas dalam catatan sejarah sebagai salah satu simbol kehebatan sekaligus daya rusak alam paling memikat di muka bumi. Ketika Simon Winchester menuliskan mahakaryanya mengenai peristiwa 27 Agustus 1883, ia menempatkan letusan gunung api di Selat Sunda ini sebagai salah satu dari lima letusan terbesar dalam sejarah geologi planet Bumi, bersanding dengan kemegahan destruktif Gunung Toba, Tambora, Taupo di Selandia Baru, serta Katmai di Alaska.
Pada masa itu, kemajuan teknologi informasi seperti telegrafi dan jaringan kabel bawah laut membuat kabar ledakan Krakatau menyebar ke seluruh penjuru dunia dalam hitungan detik—men menjadikannya bencana global pertama yang terpantau secara real-time. Namun di balik ketenaran namanya yang mendunia, sebuah pertanyaan mendasar tentang identitas geografisnya tetap bertahan hingga kini: dari manakah sebetulnya kata Krakatau—atau yang populer dalam literatur Barat sebagai Krakatoa—itu berasal?
Secara historis, penelusuran nama ini membawa para ahli bahasa dan geografer kembali ke masa abad pertengahan. Salah satu rujukan tertulis paling awal ditemukan dalam naskah bahasa Sunda Kuno bertajuk Bujangga Manik yang diperkirakan ditulis pada akhir abad ke-15. Dalam teks perjalanan tersebut, pulau ini dicatat sebagai "pulo Rakata, sebuah gunung di tengah laut".
Memasuki abad ke-17, para penjelajah dan kartografer (ahli pembuat peta bumi) Eropa mulai mengabadikan nama tersebut dalam peta-peta pelayaran mereka. Peta karya Lucas Janszoon Waghenaer tahun 1611 menamainya Pulo Carcata, di mana kata pulo diserap langsung dari bahasa Sunda yang berarti pulau. Varian ejaan lain seperti Crackatouw, Cracatoa, hingga Krakatao kemudian bermunculan dalam catatan pelaut Portugis dan Belanda, sebelum akhirnya penulisan baku Krakatau dicetuskan oleh penjelajah Wouter Schouten saat melintasi pulau rindang tersebut pada Oktober 1658.
Dari sudut pandang etimologi, hipotesis yang dianggap paling memiliki dasar ilmiah dan linguistik yang kuat berakar dari bahasa Sanskerta. Kata karka, karkaṭa, atau karkata mengandung arti "lobster" atau "kepiting". Dalam bahasa Jawa Kuno, bentuk singkat dari kata ini bertransformasi menjadi rakaṭa yang memuat makna serupa. Mengingat korelasi yang sangat dekat antara lafal rakata dalam manuskrip Bujangga Manik serta carcata pada peta lama Belanda, para linguis sepakat bahwa penamaan berbasis biota laut ini merupakan asal-usul yang paling masuk akal. Kepiting dan udang memang merupakan fauna yang mendominasi kawasan pesisir pulau tersebut sebelum kehancuran totalnya pada erupsi besar 1883.
Meski demikian, terdapat pula hipotesis populer lain berbasis onomatope atau peniruan bunyi alam. Laporan kuno yang disusun oleh seorang pastur Jesuit asal Prancis bernama Guy Tachard pada abad ke-17 memberikan gambaran menarik. Saat memutari pulau tersebut puluhan tahun setelah para pembuat peta Belanda, Tachard mencatat dalam log pelayarannya bahwa pulau itu dinamai Cacatoua karena dihuni oleh koloni burung-burung putih yang tak henti-hentinya mengicaukan suara yang menyerupai nama tersebut. Namun, teori burung kakatua ini kelak disanggah oleh peneliti Van den Berg, yang menunjukkan bahwa habitat alami burung kakatua sebenarnya berada di sebelah timur Garis Wallace, yakni di wilayah Kepulauan Nusa Tenggara, bukan di Selat Sunda.
Teori linguistik lain mencoba mengaitkan nama ini dengan kosakata bahasa Melayu kelakatu yang berarti semut bersayap atau laron. Penulis bernama Furneaux pernah melontarkan pandangan bahwa jika dilihat dari udara pada peta-peta navigasi kuno sebelum letusan 1883, gugusan Pulau Krakatau bersama dua pulau pendampingnya—Pulau Lang dan Pulau Verlaten—memang tampak menyerupai seekor semut bersayap dengan dua sayap yang terbentang di sisi-sisinya. Kendati terkesan puitis, pandangan ini dianggap spekulatif karena peta topografi udara yang presisi belum dikenal pada masa awal penamaan pulau tersebut.
Di luar kajian akademis, masyarakat Batavia pada zaman kolonial juga mengenal mitos atau cerita rakyat humoris terkait asal-usul nama ini. Dikisahkan seorang kapten kapal asing bertolak dan berlabuh di Selat Sunda, lalu menunjuk ke arah gunung berapi yang menjulang runcing sembari bertanya kepada seorang nelayan lokal mengenai nama tempat tersebut. Karena tidak memahami bahasa sang kapten, nelayan itu menjawab pendek dengan dialek Betawi, "kaga tau" yang berarti "saya tidak tahu".
Kesalahpahaman linguistik ini dipercaya sebagai awal mula sang kapten mencatat nama gunung tersebut sebagai Krakatau. Walaupun populer sebagai dongeng satire, para sejarahwan mengategorikan kisah ini sebagai mitos linguistik murni yang pola ceritanya identik dengan mitos asal-usul nama hewan kanguru di Australia maupun nama Semenanjung Yucatán di Meksiko.
Perbedaan ejaan antara Krakatau dan Krakatoa sendiri akhirnya mendapat titik terang melalui konsensus ilmiah internasional. Institusi penelitian Smithsonian melalui Global Volcanism Program mengonfirmasi bahwa Krakatau adalah nama resmi dan paling tepat sesuai dengan Bahasa Indonesia serta tradisi lokal masyarakat setempat. Di sisi lain, ejaan Krakatoa tetap diakui sebagai bentuk yang sangat umum dan mengakar kuat dalam literatur berbahasa Inggris akibat kekhilafan ejaan yang telanjur menyebar luas dalam warta koran-koran Barat sewaktu melaporkan bencana dahsyat 1883.
Terlepas dari perdebatan etimologi dan seluk-beluk penamaannya, riwayat vulkanik di Selat Sunda tetap berlanjut. Jejak amukan Krakatau, diteruskan oleh Gunung Anak Krakatau. Sejak kemunculan puncaknya ke permukaan laut pada 11 Juni 1927 akibat erupsi magma basa di pusat kaldera lama, sang generasi baru, terus melanjutkan warisan geologis sang induk. Saat ini, Anak Krakatau berada dalam status Level III atau Siaga, terus tumbuh dan bergolak, sembari membawa identitas nama legendaris yang mengabadikan salah satu tenaga alam paling spektakuler di muka bumi. (MAR)