JAKARTA, AFU.ID — Nilai tukar rial Iran kembali mencetak rekor terendah. Di pasar bebas, nilai tukar mata uang Iran kini menembus level 2 juta rial untuk mendapatkan 1 dolar AS, di tengah tekanan sanksi Amerika Serikat yang semakin ketat di bawah pemerintahan Donald Trump. Keterpurukan rial menjadi gambaran terbaru memburuknya kondisi ekonomi Iran yang telah lama tertekan oleh sanksi Amerika Serikat dan negara-negara Barat, terutama terkait program nuklir Teheran.
Kondisi tersebut semakin parah setelah perang Iran-Israel yang dimulai pada 28 Februari. Kerusakan infrastruktur, terganggunya produksi serta hambatan perdagangan membuat tekanan terhadap perekonomian Iran semakin berat. Dampaknya terasa langsung pada harga kebutuhan sehari-hari. Data yang dilaporkan Al Jazeera diakses Afu.id, Jumat (28/8/2026) menunjukkan, sebelum perang, uang 2 juta rial masih dapat digunakan untuk membeli sekitar 4 kilogram tomat, setengah kilogram ayam dan hampir satu liter minyak goreng. Kini, dengan jumlah uang yang sama, masyarakat Iran hanya mendapatkan sekitar separuh dari barang yang sebelumnya bisa dibeli.
Harga tomat rata-rata melonjak 71 persen. Harga ayam naik 74 persen, sementara minyak goreng mengalami kenaikan hingga 177 persen. Kenaikan bahkan jauh lebih tajam pada sejumlah kebutuhan kesehatan. Harga insulin dilaporkan melonjak 642 persen. Parasetamol naik 93 persen, sedangkan susu formula bayi yang sebagian besar masih mendapatkan subsidi pemerintah meningkat sekitar 95 persen. Bagi keluarga Iran, tekanan tersebut tidak sekadar berarti meningkatnya harga barang, tetapi juga perubahan pola hidup. Afsaneh, perempuan berusia 35 tahun yang tinggal di Teheran bersama suami dan anaknya yang berusia satu tahun, mengatakan biaya belanja kebutuhan rumah tangganya meningkat sekitar 20-30 persen setiap pekan. "Sebelum perang, kami bisa menyimpan gaji untuk kebutuhan tiga bulan, tetapi sekarang, setiap akhir bulan sudah habis,” kata Afsaneh kepada Al Jazeera.
Ia mengatakan keluarganya kini harus memangkas berbagai pengeluaran yang sebelumnya masih dapat direncanakan, termasuk membeli pakaian baru atau mengganti mobil. Biaya penitipan anak di pusat penitipan anak juga telah mencapai sekitar 500 ribu toman atau 5 juta rial, setara sekitar 2,5 dolar AS berdasarkan nilai tukar yang digunakan dalam laporan tersebut. Di Iran, toman merupakan satuan tidak resmi yang digunakan masyarakat dalam transaksi sehari-hari. Satu toman setara dengan 10 rial.
Pemasukan Tak Sebanding dengan Inflasi
Persoalan semakin berat karena pendapatan masyarakat tidak meningkat sebanding dengan harga barang. Upah minimum yang ditetapkan pemerintah Iran untuk tahun kalender berjalan hingga Maret 2027 berada di angka 166 juta rial atau sekitar 82 dolar AS. Setelah ditambah bantuan dan tunjangan pemerintah, nilainya masih kurang dari 220 juta rial atau sekitar 108 dolar AS. Sementara itu, dunia usaha juga menghadapi tekanan yang sama. Zamir, 35 tahun, yang bekerja di sektor perdagangan fesyen pria di Teheran, mengatakan penjualannya turun sekitar 40 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Menurutnya, banyak pelaku usaha di sektor tersebut berpotensi bangkrut apabila kondisi ekonomi tidak membaik. "Semuanya jadi lebih mahal. Upah pekerja ikut naik seiring meningkatnya harga kebutuhan bahan pokok. Sementara hampir semua kebutuhan operasional bisnis di sini juga ikut naik,” ucap Zamir. Sejumlah pedagang bahkan terpaksa menjual stok pakaian musim panas di bawah harga modal. Namun, mereka memperkirakan gelombang kenaikan harga baru akan kembali terasa ketika memasuki musim gugur. Zamir juga menggambarkan betapa cepatnya uang masyarakat tergerus dalam aktivitas sehari-hari.
Menurut dia, seseorang dapat menghabiskan sedikitnya 2 juta toman atau sekitar 10 dolar AS sejak keluar rumah hingga kembali, untuk kebutuhan seperti kopi, rokok, air dan transportasi. Bahkan dengan pengeluaran yang sangat ditekan, kebutuhan harian masih dapat mencapai 700 ribu hingga 800 ribu toman atau sekitar 3,5-4 dolar AS, di luar belanja kebutuhan rumah tangga.
Kondisi tersebut menciptakan masalah lain bagi masyarakat yang hidup dari gaji tetap. Ketika inflasi bergerak lebih cepat daripada pendapatan, nilai riil gaji dapat menyusut bahkan sebelum waktu pembayaran berikutnya tiba. Salama, 28 tahun, seorang ibu satu anak yang bekerja sebagai nelayan di Provinsi Hormozgan, mengatakan keluarganya mengalami lonjakan biaya kebutuhan pokok secara drastis. Sebelumnya, belanja kebutuhan rumah tangga mingguan keluarganya hanya sekitar 500 ribu toman atau 2,5 dolar AS.
Kini, untuk barang yang sama, mereka harus mengeluarkan sedikitnya 5 juta toman atau sekitar 25 dolar AS. Akibatnya, daging dan ayam mulai dikurangi, bahkan dihilangkan dari daftar belanja. Harga obat juga menjadi persoalan. Obat flu anak maupun obat alergi musiman, termasuk produk buatan Iran, kini dapat mencapai sekitar 300 ribu toman atau 1,5 dolar AS. Sementara biaya konsultasi dokter umum disebut tidak kurang dari 1 juta toman atau sekitar 5 dolar AS.
Jatuhnya rial sebenarnya bukan persoalan baru bagi Iran. Perekonomian negara tersebut telah menghadapi tekanan selama bertahun-tahun akibat sanksi internasional dan keterbatasan akses terhadap pasar global. Namun, kebijakan sanksi Amerika Serikat yang semakin agresif kembali mempersempit ruang gerak ekonomi Teheran. Sanksi membatasi akses Iran terhadap pasar internasional, sementara perang dan kerusakan infrastruktur mengganggu produksi domestik. Hambatan terhadap aktivitas impor dan ekspor juga membuat pasokan serta biaya perdagangan semakin tertekan.
Dalam situasi tersebut, pelemahan rial membuat barang impor dan bahan baku menjadi semakin mahal. Biaya produksi kemudian diteruskan kepada konsumen melalui kenaikan harga. Dengan jumlah penduduk sekitar 92 juta jiwa, dampaknya berpotensi dirasakan dalam skala luas. Perang bukan penyebab awal masalah ekonomi Iran. Namun, konflik tersebut memperbesar persoalan yang sebelumnya sudah ada: inflasi tinggi, lemahnya daya beli, stagnasi pendapatan dan tekanan terhadap dunia usaha. (EER)