Nikmati fitur lengkap distribusi bias, newsletter, pemberitahuan berita
AI Tumbuh Pesat, Indonesia Masih Kekurangan Infrastruktur dan 600 Ribu Talenta Digital
Bagikan:
Penulis: Adriyan Adirizky Rahmat · Reporter: Adriyan Adirizky R
Ringkasan Berita
Indonesia mengalami pertumbuhan pesat dalam adopsi teknologi kecerdasan buatan (AI), dengan potensi kontribusi ekonomi mencapai USD15,7 triliun pada 2030. Namun, negara ini menghadapi tantangan serius terkait infrastruktur digital dan kurangnya 600 ribu talenta digital setiap tahun untuk mendukung transformasi tersebut. Pemerintah berkomitmen untuk membangun fondasi yang kuat melalui pengembangan infrastruktur, peningkatan keterampilan SDM, dan menarik investasi, guna memastikan bahwa pertumbuhan AI dapat memberikan manfaat ekonomi dan sosial yang nyata bagi masyarakat.
Ilustrasi pertumbuhan AI di Indonesia. (Foto: Pexels/Google DeepMind)
JAKARTA, AFU.ID — Artifficial Intelligent (AI) memberikan peluang ekonomi besar untuk Indonesia, lantaran adopsi teknologi tumbuh cepat di berbagai sektor. Teknologi kecerdasan buatan berpotensi menambah USD15,7 triliun atau setara dengan Rp278,14 kuadriliun terhadap perekonomian dunia pada 2030 mendatang. Hanya saja, peluang itu membutuhkan infrastruktur digital, energi, investasi, dan talenta dalam skala besar.
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Republik Indonesia (RI), Airlangga Hartarto menyatakan fitur AI mencatatkan pertumbuhan pendapatan nasional sampai dengan 127% secara tahunan. Angka itu tercatat pada periode Semester I-2025 yang menjadi momentum komersial terkuat di kawasan Asia Tenggara. Secara global, industri yang paling banyak terpapar AI juga mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 27% menurut PricewaterhouseCoopers.
Sementara itu, sekitar 80% pengguna internet Indonesia telah menggunakan fitur AI dalam aktivitas sehari-hari. Basis pengguna itu tumbuh bersamaan dengan ekonomi digital Indonesia yang mendekati USD100 miliar Gross Merchandise Value (GMV) yang setara Rp1.770 triliun. Dengan sekitar 235 juta pengguna internet dan penetrasi 81%, pasar digital Indonesia menjadi yang terbesar di Asia Tenggara.
Akan tetapi, tingginya adopsi teknologi belum otomatis menunjukkan kesiapan kapasitas digital nasional. Pemerintah RI memperkirakan kebutuhan sekitar 600 ribu profesional digital setiap tahun untuk menopang transformasi. Kebutuhan talenta itu menjadi tantangan ketika pengembangan AI juga membutuhkan kemampuan teknis pada infrastruktur, semikonduktor, dan pengolahan data.
Selain talenta, kebutuhan infrastruktur menjadi persoalan penting dalam ekspansi AI. Indonesia pun sedang mengembangkan kapasitas pusat data dengan pipeline mencapai 1,17 gigawatt (GW). Pemerintah RI juga mendorong ketersediaan energi bersih agar pertumbuhan infrastruktur digital dapat berjalan berkelanjutan.
Airlangga Hartarto menyampaikan, pengembangan teknologi harus bermuara pada manfaat ekonomi dan sosial yang terukur. Ia pun menilai, pemerintah perlu membangun tiga fondasi utama berupa infrastruktur, talenta, dan investasi. “Yang terpenting adalah bagaimana kita mengubah AI, digital twin, dan teknologi digital menjadi manfaat nyata bagi produktivitas, daya saing, pelayanan publik, serta kualitas hidup masyarakat,” ungkapnya, Rabu (26/8/2026).
AI di Indonesia Kejar Talenta dan Investasi Semikonduktor
Lebih lanjut, Menko Airlangga menyebut Pemerintah RI telah memperluas program pengembangan sumber daya manusia (SDM) digital melalui Tech Indonesia Singapore Program dan Digital Talent Scholarship. Selain itu, menyediakan insentif super tax deduction hingga 200% bagi industri yang menyelenggarakan kegiatan vokasi. Instrumen itu bertujuan untuk mempersempit kesenjangan antara kebutuhan industri teknologi dan ketersediaan tenaga terampil.
Dari sisi investasi, kemitraan antara Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) dan Arm Limited terjalun untuk melatih 15 ribu insinyur di Indonesia. Sementara itu, kerja sama Indonesia-Amerika Serikat (AS) melalui Joint Development Agreement pada Februari 2026 membuka investasi awal USD4,89 miliar. Investasi yang setara dengan Rp86,61 triliun itu akan mengembangkan kawasan Galang sebagai klaster semikonduktor terpadu.
Di tingkat regional, Pemerintah RI menargetkan penandatanganan ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA) pada November 2026. Kesepakatan itu diproyeksikan mampu menggandakan nilai ekonomi digital ASEAN menjadi sekitar USD2 triliun atau setara Rp35,43 kuadriliun. Indonesia juga bergabung sebagai anggota pendiri World AI Cooperation Organization (WAICO) bersama 28 negara.
Pada akhirnya, pertumbuhan AI di Indonesia tak hanya menghadapi persoalan seberapa cepat masyarakat mengadopsi teknologinya. Tantangan yang lebih menentukan adalah kemampuan menyediakan talenta, pusat data, energi, investasi, dan industri semikonduktor secara berkelanjutan. Tanpa kapasitas itu, pertumbuhan penggunaan AI berisiko lebih memperbesar pasar teknologi ketimbang memperkuat posisi Indonesia sebagai pencipta nilai dalam ekonomi digital. (ADR)