AFU.id

AI Tumbuh Pesat, Indonesia Masih Kekurangan Infrastruktur dan 600 Ribu Talenta Digital

Bagikan:

Penulis: Adriyan Adirizky RahmatReporter: Adriyan Adirizky R

Ringkasan Berita

Indonesia mengalami pertumbuhan pesat dalam adopsi teknologi kecerdasan buatan (AI), dengan potensi kontribusi ekonomi mencapai USD15,7 triliun pada 2030. Namun, negara ini menghadapi tantangan serius terkait infrastruktur digital dan kurangnya 600 ribu talenta digital setiap tahun untuk mendukung transformasi tersebut. Pemerintah berkomitmen untuk membangun fondasi yang kuat melalui pengembangan infrastruktur, peningkatan keterampilan SDM, dan menarik investasi, guna memastikan bahwa pertumbuhan AI dapat memberikan manfaat ekonomi dan sosial yang nyata bagi masyarakat.

AI Tumbuh Pesat, Indonesia Masih Kekurangan Infrastruktur dan 600 Ribu Talenta Digital
Ilustrasi pertumbuhan AI di Indonesia. (Foto: Pexels/Google DeepMind)

AI di Indonesia Kejar Talenta dan Investasi Semikonduktor

Lebih lanjut, Menko Airlangga menyebut Pemerintah RI telah memperluas program pengembangan sumber daya manusia (SDM) digital melalui Tech Indonesia Singapore Program dan Digital Talent Scholarship. Selain itu, menyediakan insentif super tax deduction hingga 200% bagi industri yang menyelenggarakan kegiatan vokasi. Instrumen itu bertujuan untuk mempersempit kesenjangan antara kebutuhan industri teknologi dan ketersediaan tenaga terampil.

Dari sisi investasi, kemitraan antara Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) dan Arm Limited terjalun untuk melatih 15 ribu insinyur di Indonesia. Sementara itu, kerja sama Indonesia-Amerika Serikat (AS) melalui Joint Development Agreement pada Februari 2026 membuka investasi awal USD4,89 miliar. Investasi yang setara dengan Rp86,61 triliun itu akan mengembangkan kawasan Galang sebagai klaster semikonduktor terpadu.

Di tingkat regional, Pemerintah RI menargetkan penandatanganan ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA) pada November 2026. Kesepakatan itu diproyeksikan mampu menggandakan nilai ekonomi digital ASEAN menjadi sekitar USD2 triliun atau setara Rp35,43 kuadriliun. Indonesia juga bergabung sebagai anggota pendiri World AI Cooperation Organization (WAICO) bersama 28 negara.

Pada akhirnya, pertumbuhan AI di Indonesia tak hanya menghadapi persoalan seberapa cepat masyarakat mengadopsi teknologinya. Tantangan yang lebih menentukan adalah kemampuan menyediakan talenta, pusat data, energi, investasi, dan industri semikonduktor secara berkelanjutan. Tanpa kapasitas itu, pertumbuhan penggunaan AI berisiko lebih memperbesar pasar teknologi ketimbang memperkuat posisi Indonesia sebagai pencipta nilai dalam ekonomi digital. (ADR)

Berita Terkait

Pilihan Redaksi