JAKARTA, AFU.ID — Gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu (15/8/2026) memperlihatkan besarnya risiko kegempaan di wilayah tersebut. Gempa dangkal itu bersumber di laut sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo pada kedalaman 15 kilometer. BMKG mengidentifikasi sumbernya sebagai aktivitas Sesar Naik Belakang Busur Flores atau Flores Back-Arc Thrust.
NTT berada dalam kawasan dengan susunan tektonik yang kompleks karena terletak pada peralihan Busur Sunda dan Busur Banda. Di sebelah selatan, Lempeng Indo-Australia menunjam ke bawah rangkaian kepulauan Nusa Tenggara. Tekanan dari proses tersebut turut membentuk zona sesar naik aktif di sebelah utara Flores.
Sesar naik terbentuk ketika tekanan horizontal mendorong satu bagian kerak bumi bergerak naik terhadap bagian lainnya. Pergerakan tidak selalu berlangsung secara perlahan karena bidang sesar dapat terkunci selama bertahun-tahun sambil menyimpan energi. Ketika kekuatan batuan tidak lagi mampu menahan tekanan, energi dilepaskan dalam bentuk gempa bumi.
Gempa M7,7 di Flores memiliki mekanisme pergerakan naik yang sesuai dengan karakter Sesar Naik Belakang Busur Flores. Zona tersebut memanjang di bagian utara Kepulauan Nusa Tenggara dan memiliki riwayat menghasilkan gempa besar. Salah satu peristiwa penting terjadi pada 1992 ketika gempa magnitudo 7,5 memicu tsunami dan kerusakan luas di Flores.
Catatan sejarah tidak berarti gempa besar berikutnya dapat dipastikan waktunya. Ilmu pengetahuan saat ini belum dapat menentukan secara tepat tanggal, lokasi, dan kekuatan gempa yang akan terjadi. Informasi mengenai sesar aktif digunakan untuk memetakan risiko, merancang bangunan, dan mempersiapkan evakuasi, bukan untuk membuat ramalan gempa.
Besarnya magnitudo juga bukan satu-satunya faktor yang menentukan tingkat kerusakan. Kedalaman pusat gempa, jarak permukiman dari sumber, lama guncangan, kondisi tanah, kepadatan penduduk, dan mutu konstruksi ikut memengaruhi dampak. Gempa dangkal yang terjadi dekat permukiman dapat menghasilkan guncangan kuat meskipun kekuatannya lebih kecil daripada gempa yang berpusat jauh dan sangat dalam.
Kondisi tanah dapat membuat kekuatan guncangan berbeda di setiap tempat. Lapisan tanah lunak dan endapan sedimen tertentu dapat memperkuat gelombang gempa dibandingkan dengan batuan yang lebih padat. Karena itu, dua kawasan dengan jarak hampir sama dari pusat gempa belum tentu mengalami tingkat kerusakan yang setara.
Kerentanan bangunan menjadi faktor penting ketika gempa terjadi di daerah berpenduduk. BNPB mencatat 53.971 rumah mengalami kerusakan hingga Sabtu (22/8/2026), terdiri dari 19.006 rumah rusak berat, 11.777 rusak sedang, dan 23.188 rusak ringan. Besarnya kerusakan menunjukkan bahwa mitigasi gempa tidak cukup hanya mengandalkan pemantauan aktivitas sesar.
Bangunan tahan gempa bukan berarti bangunan sama sekali tidak akan retak atau rusak. Perencanaannya diarahkan agar struktur tidak runtuh secara tiba-tiba sehingga penghuni memiliki kesempatan menyelamatkan diri. Indonesia telah memiliki SNI 1726:2019 sebagai acuan perencanaan ketahanan gempa untuk bangunan gedung dan nongedung.
Penerapan standar tetap bergantung pada kualitas perencanaan, bahan, pengerjaan, dan pengawasan selama pembangunan. Pada rumah sederhana, sambungan antara fondasi, kolom, balok, dinding, dan atap harus membentuk struktur yang bekerja sebagai satu kesatuan. Perubahan bangunan tanpa perhitungan, penggunaan material yang tidak sesuai, serta lemahnya sambungan dapat meningkatkan risiko keruntuhan ketika menerima guncangan.
Ancaman belum langsung berakhir setelah gempa utama berhenti. BMKG mencatat sedikitnya 4.258 gempa susulan hingga Selasa (25/8/2026), dengan klaster utama mengikuti zona sumber gempa di utara Nagekeo. Jumlah gempa susulan diperkirakan berangsur menurun, tetapi beberapa di antaranya tetap dapat dirasakan dan membahayakan bangunan yang sudah kehilangan kekuatan.
Banyaknya gempa susulan tidak dapat langsung diartikan sebagai tanda bahwa gempa yang lebih besar pasti akan terjadi. Aktivitas tersebut umumnya merupakan proses penyesuaian kerak bumi setelah pelepasan energi pada gempa utama. Masyarakat tetap perlu mengikuti informasi BMKG dan menghindari kabar prediksi gempa yang tidak memiliki sumber resmi.
Bangunan yang mengalami retakan besar, kemiringan, kerusakan kolom, atau perubahan bentuk sebaiknya tidak langsung ditempati kembali sebelum diperiksa. Warga juga perlu menjauhi dinding, atap, dan bagian bangunan yang berpotensi runtuh selama rangkaian gempa susulan berlangsung. Penilaian keselamatan harus dilakukan oleh petugas atau tenaga yang memiliki kompetensi di bidang struktur bangunan.
Aktivitas Sesar Naik Flores tidak dapat dihentikan, tetapi risiko korban dapat dikurangi. Pemetaan zona rawan, penerapan standar konstruksi, pemeriksaan bangunan lama, jalur evakuasi, dan pendidikan kebencanaan menjadi pertahanan utama bagi masyarakat NTT. Gempa berubah menjadi bencana besar ketika bahaya alam bertemu dengan bangunan rentan dan kesiapsiagaan yang belum memadai. (RHU)