JAKARTA, AFU.ID — Perkumpulan Organisasi Petani Sawit Indonesia menilai Danantara Sumber Daya Indonesia lebih tepat berperan sebagai pengawas perdagangan sawit nasional.
Ketua Umum Perkumpulan Organisasi Petani Sawit Indonesia Mansuetus Darto mengatakan lembaga itu sebaiknya tidak menjadi pengendali utama perdagangan sawit.
Menurut dia, Danantara Sumber Daya Indonesia lebih tepat berfungsi sebagai regulator pendukung, verifikator, dan pengawas sistem perdagangan.
“Negara, pemerintah, dan atau DSI seharusnya lebih tepat berperan sebagai regulator, verifikator, dan pengawas perdagangan sawit nasional,” kata Mansuetus, Jumat, (29/5/2026).
Perkumpulan Organisasi Petani Sawit Indonesia mendukung digitalisasi perdagangan sawit nasional.
Namun, digitalisasi dinilai tidak boleh berubah menjadi sentralisasi perdagangan.
Mansuetus menilai sentralisasi berisiko menciptakan monopoli baru dalam rantai perdagangan sawit.
Kondisi itu dikhawatirkan dapat menekan persaingan usaha dan memperbesar ketergantungan pasar.
Karena itu, organisasi petani sawit tersebut mengusulkan pembangunan platform digital nasional sawit.
Platform itu diminta terintegrasi dari tingkat petani, pabrik kelapa sawit, pengolahan, stok minyak sawit mentah, transaksi domestik, hingga ekspor.
Sistem tersebut juga dinilai perlu terkoneksi dengan Bea Cukai, Badan Pengelola Dana Perkebunan, otoritas pelabuhan, surveyor, karantina, kementerian terkait, logistik nasional, dan perbankan.
Dengan sistem digital, negara tetap dapat mengawasi perdagangan sawit secara langsung.
Pengawasan itu mencakup produksi, transaksi, dokumen ekspor, arus pembayaran, hingga devisa hasil ekspor.
Menurut Mansuetus, model tersebut dapat menekan praktik under invoicing dan transfer pricing tanpa memperpanjang birokrasi perdagangan.
Perkumpulan Organisasi Petani Sawit Indonesia juga meminta pemerintah segera memberi kepastian regulasi.
Kepastian itu dinilai penting agar transaksi sawit tetap stabil hingga Desember 2026.
“Dengan adanya kepastian regulasi, ekosistem industri tetap stabil dan transaksi dengan petani sawit tetap berjalan normal,” kata Mansuetus. (RHU)