JAKARTA, AFU.ID – KDi era digital saat ini, paparan berita tentang tragedi, konflik, dan kisah menyentuh yang beredar luas di media sosial sering kali memicu respons emosional yang kuat. Meski tidak mengalaminya secara langsung, banyak orang tetap bisa merasakan kesedihan, kemarahan, ketakutan, bahkan tekanan emosional yang mendalam.
Respons itu dikenal sebagai empati, kemampuan untuk memahami atau ikut merasakan pengalaman emosional orang lain. Empati membuat manusia bisa terhubung. Seseorang dapat memahami mengapa temannya menangis, mengapa korban bencana merasa kehilangan, atau mengapa seseorang memilih diam saat menghadapi masalah.
Namun, rasa peduli juga bisa menjadi berat ketika seseorang terlalu lama menyerap penderitaan orang lain tanpa memberi ruang bagi dirinya sendiri.
Arsitek pemikiran tentang kebahagiaan Arthur C. Brooks pernah mengingatkan bahwa empati kerap dipandang selalu baik, seolah semakin besar empati seseorang maka semakin baik pula karakternya. Padahal, empati yang tidak disertai batas dapat berubah menjadi kelelahan emosional.
Psikolog Trudy Meehan dan Jolanta Burke membagi empati ke dalam dua bentuk. Pertama, empati kognitif, yaitu kemampuan melihat situasi dari sudut pandang orang lain. Kedua, empati emosional, yaitu ikut merasakan kesedihan, ketakutan, atau penderitaan yang dialami orang lain.
Empati kognitif membantu seseorang memahami tanpa harus tenggelam dalam emosi. Sementara empati emosional membuat seseorang lebih dekat dengan pengalaman orang lain, tetapi juga lebih rentan terbawa suasana.
Ketika melihat kabar duka, misalnya, seseorang bisa memahami bahwa keluarga korban sedang kehilangan. Itu adalah empati kognitif. Namun, ketika kesedihan tersebut terus terbawa hingga mengganggu tidur, membuat cemas, atau membuat seseorang merasa seolah mengalami peristiwa yang sama, empati dapat berubah menjadi beban personal. Dalam kondisi seperti itu, seseorang bukan lagi hanya peduli kepada orang lain. Ia mulai ikut terluka oleh rasa sakit yang sebenarnya bukan miliknya.
Psikolog menyebut keadaan itu sebagai personal distress, ketika batas antara emosi diri sendiri dan emosi orang lain menjadi kabur. Orang yang mengalaminya bisa merasa lelah setelah membaca berita, terus memikirkan masalah orang lain, atau merasa bersalah karena tidak mampu membantu semua orang.
Kondisi tersebut semakin mudah muncul di era media sosial. Setiap hari, layar ponsel membawa banyak cerita: perang, bencana, kemisk itu sebagai personal distress, ketika batas antara emosi diriinan, kekerasan, perceraian, kehilangan pekerjaan, hingga konflik pribadi yang dibagikan secara terbuka.
Paparan yang terus-menerus dapat membuat seseorang merasa harus selalu hadir, merespons, dan ikut merasakan seluruh peristiwa yang lewat di hadapannya. Padahal, peduli tidak selalu berarti harus menyerap seluruh kesedihan orang lain.
Di titik inilah belas kasih menjadi penting. Belas kasih bukan berarti tidak punya perasaan. Belas kasih justru dimulai dari kemampuan mengenali penderitaan orang lain, memahami situasinya, lalu memilih tindakan yang bisa membantu tanpa kehilangan kendali atas diri sendiri.
Empati membuat seseorang berkata, “Aku ikut sakit melihatmu.” Belas kasih melangkah lebih jauh dengan bertanya, “Apa yang bisa kulakukan untuk membantumu?”
Perbedaan itu terlihat sederhana, tetapi dampaknya besar. Empati yang hanya berhenti pada rasa dapat membuat seseorang larut dalam kesedihan. Belas kasih mengubah rasa tersebut menjadi tindakan yang lebih terarah.
Tindakan itu tidak harus selalu besar. Mengirim pesan kepada teman yang sedang kesulitan, menemani seseorang mencari bantuan, menyumbang sesuai kemampuan, atau sekadar mendengarkan tanpa menghakimi bisa menjadi bentuk belas kasih.
Di sisi lain, menjaga batas diri juga bukan tindakan egois. Seseorang tetap boleh berhenti membaca kabar buruk ketika merasa terlalu lelah, membatasi waktu di media sosial, atau menolak menjadi tempat menampung semua persoalan orang lain. Menjaga diri diperlukan agar kepedulian tidak berubah menjadi kelelahan.
Belas kasih juga mengajarkan bahwa membantu tidak selalu berarti menyetujui semua hal. Kadang, bentuk kepedulian justru hadir lewat nasihat yang jujur, batas yang tegas, atau ajakan untuk mencari pertolongan profesional.
Seseorang dapat peduli kepada temannya yang sedang berada dalam hubungan tidak sehat tanpa harus membenarkan semua pilihannya. Seseorang juga dapat mendengarkan keluarga yang sedang bermasalah tanpa harus ikut memikul seluruh konflik mereka.
Pada akhirnya, empati tetap penting karena manusia tidak hidup sendiri. Namun, rasa peduli perlu disertai kesadaran bahwa setiap orang memiliki batas emosi dan kemampuan yang berbeda. Peduli kepada orang lain tidak harus membuat seseorang kehilangan dirinya sendiri. Sebab, belas kasih yang sehat bukan hanya membantu orang yang sedang menderta, tetapi juga menjaga penolong tetap mampu berdiri. (RHU)