AFU.ID, JAKARTA - Lima peneliti ahli utama baru Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memaparkan riset unggulan dalam sidang terbuka pengukuhan profesor riset.
Agenda tersebut berlangsung di Gedung BJ Habibie, Jakarta untuk memberikan solusi nyata bagi tantangan pembangunan berkelanjutan di Indonesia pada Selasa, 31 Maret 2026.
Mu’man Nuryana mengawali orasi dengan menekankan transformasi tata kelola kesejahteraan sosial melalui pendekatan kolaboratif yang inklusif dan adaptif.
Ia merumuskan Model Orkestrasi Ekosistem yang menyinergikan aktor dan pengetahuan untuk mengatasi fragmentasi kebijakan layanan sosial bagi masyarakat luas.
“Dengan menempatkan komunitas sebagai produsen kesejahteraan dan negara sebagai pemungkin, model ini menawarkan arah transformasi kebijakan sosial berbasis kolaborasi, nilai lokal, dan keadilan sosial Indonesia,” ungkapnya.
Hasil riset unggulan berikutnya datang dari Robet Asnawi yang mengembangkan sistem pertanian ubi kayu berbasis ekonomi sirkuler nasional.
Inovasi sistem tanam double row miliknya terbukti mampu meningkatkan produktivitas tanaman hingga lebih dari 100% bagi petani.
“Transformasi agribisnis ubi kayu perlu dilakukan secara terpadu dari hulu hingga hilir,” tuturnya.
“Di sisi hilir, persoalan utama adalah penentuan harga yang sering kali tidak adil antara petani dan pabrik tapioka,” sambungnya.
Robet Asnawi juga menyampaikan, pendekatan pemanfaatan biomassa meningkatkan produktivitas hingga 17,26% dan pendapatan petani sebesar 48,83%.
“Karena itu, diperlukan harga dasar yang transparan dengan mempertimbangkan biaya produksi, kadar pati, dan harga tapioka,” ujarnya.
“Kemitraan inklusif petani dan industri penting untuk memperkuat rantai pasok dan menjaga keberlanjutan usaha,” tambahnya.
Taslim Arifin memperkuat sektor maritim melalui pengembangan Indeks Daya Dukung Ekologi (IDDE) untuk mengukur kapasitas ekosistem pesisir secara akurat.
Instrumen dalam riset unggulan tersebut sangat krusial untuk menekan laju degradasi terumbu karang yang memiliki nilai ekonomi sangat tinggi.
“Terumbu karang menyumbang sekitar 3,1 miliar US dollar per tahun dari sektor pariwisata, kemudian 2,9 miliar US dollar per tahun dari sektor perikanan, dan 639 juta US dollar per tahun dari sektor perlindungan pantai,” paparnya.
“IDDE berperan penting dalam menekan laju degradasi dan meningkatkan nilai ekologis terumbu karang, sehingga memperkuat basis ilmiah untuk tata kelola ruang laut mendukung ekonomi biru,” lanjutnya.
Inovasi Teknologi dan Riset Unggulan
Hunggul Yudono memaparkan teknik konservasi tanah serta air berbasis lokal untuk mendukung kebijakan pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS).
Sementara itu, Aprijanto mengembangkan teknologi adaptif berbasis hidrodinamika untuk menghadapi tantangan perubahan iklim serta fenomena penurunan muka tanah.
Penerapan kecerdasan buatan dalam riset unggulan Aprijanto mendukung pengembangan konsep pelabuhan cerdas yang ramah lingkungan atau Smart and Green Port.
Pendekatan tersebut memastikan hasil penelitian dapat diadopsi secara luas dalam tata kelola wilayah pesisir yang lebih berdaya saing.
Sidang terbuka tersebut menegaskan peran strategis lembaga dalam menghasilkan ilmu pengetahuan yang berdampak langsung pada kesejahteraan rakyat Indonesia.
Harapannya, seluruh inovasi tersebut menjadi rujukan utama bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan pembangunan nasional yang berbasis data ilmiah.