Nikmati fitur lengkap distribusi bias, newsletter, pemberitahuan berita
5 Ribu Mahasiswa Terdampak Gempa Bumi NTT Dapat Pembebasan UKT Satu Semester
Bagikan:
Penulis: Adriyan Adirizky Rahmat · Reporter: Adriyan Adirizky R
Ringkasan Berita
Sebanyak 5.000 mahasiswa yang terdampak gempa bumi magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT) mendapatkan pembebasan Uang Kuliah Tunggal (UKT) selama satu semester sebagai upaya pemerintah untuk memastikan keberlanjutan pendidikan mereka di tengah kondisi pascabencana. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, menyatakan bahwa kebijakan ini dapat diperpanjang jika masih diperlukan, sementara bantuan juga disiapkan bagi mahasiswa asal NTT yang kuliah di luar daerah bencana. Selain itu, Kementerian berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana untuk memberikan dukungan lebih lanjut, termasuk bantuan psikologis dan pemulihan fasilitas kesehatan yang terdampak.
Mendiktisaintek RI, Brian Yuliarto secara simbolis memberikan bantuan pembebasan UKT untuk 5.000 mahasiswa terdampak gempa bumi di NTT, Rabu (26/8/2026). (Foto: Kemdiktisaintek RI)
JAKARTA, AFU.ID — Sebanyak 5.000 mahasiswa yang terdampak gema bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mendapat pembebasan Uang Kuliah Tunggal (UKT) selama satu semester. Kebijakan itu sebagai upaya menjaga keberlanjutan pendidikan ketika keluarga mahasiswa masih menghadapi dampak bencana. Pemerintah Republik Indonesia (RI) juga membuka kemungkinan memperpanjang pembebasan UKT satu semester apabila kondisi mahasiswa masih membutuhkan dukungan.
Melansir website Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) RI, pemberian pembebasan UKT mengacu data mahasiswa terdampak yang telah terhimpun. Menteri Brian Yuliarto menyampaikan kebijakan itu ketika meninjau kondisi pascabencana di Kabupaten Manggarai, Rabu (26/8/2026). Ia menyatakan, bantuan pendidikan itu menjadi bagian dari respons pemerintah untuk mencegah bencana mengganggu keberlanjutan studi mahasiswa.
Sementara itu, keluarga mahasiswa terdampak masih harus memulihkan tempat tinggal sekaligus kondisi ekonomi setelah bencana. Beban itu dapat mempersempit kemampuan orang tua dalam membiayai pendidikan anaknya ketika kebutuhan dasar meningkat. Oleh karenanya, pembebasan UKT hadir untuk memberikan ruang kepada mahasiswa agar tetap mengikuti pendidikan.
Selain yang berada di wilayah terdampak, Kemdiktisaintek RI menyiapkan bantuan bagi keluarga mahasiswa asal NTT yang sedang berkuliah di luar daerah bencana. Kementerian berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk menyesuaikan bantuan dengan kebutuhan lapangan. Dukungan psikologis melalui trauma healing juga menjadi pertimbangan sebagai bagian dari pemulihan mahasiswa.
Menteri Brian menjelaskan, perguruan tinggi juga telah bergerak melalui pengiriman logistik, pembangunan posko, dan pendistribusian bantuan. Data kebutuhan yang telah terhimpun akan menjadi dasar bagi kampus lain dalam menyalurkan bantuan. “Kita akan memberikan bantuan UKT untuk satu semester kepada 5.000 mahasiswa, dan menambah satu semester lagi kalau memang masih diperlukan,” ungkapnya.
Gempa Bumi NTT Rusak Fasilitas Kesehatan
Di sisi lain, dampak bencana di Kabupaten Manggarai menunjukkan skala pemulihan yang tidak ringan. Bupati Manggarai, Herybertus Geradus Laju Nabit melaporkan 45 korban jiwa dan sekitar 50.000 pengungsi per hari ini. Adapun dari jumlah pengungsi itu, sekitar 7.600 orang tergolong kelompok rentan.
Herybertus Geradus Laju Nabit juga melaporkan kerusakan pada fasilitas kesehatan yang menghambat penanganan korban pascabencana. Ia menyebut 23 orang meninggal dunia akibat shock, sementara kerusakan fasilitas kesehatan memperberat kondisi penanganan. “Seluruh puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat, red) dan mayoritas rumah sakit hancur, kami mencoba memahami apa yang sedang terjadi dan harus mulai dari mana,” tuturnya.
Kemdiktisaintek RI sendiri telah memetakan kebutuhan mahasiswa dan perguruan tinggi bersama Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI). Kampus juga disiapkan untuk mendukung pemulihan melalui Program Mahasiswa Berdampak dengan skema Aksi Pembelajaran dan Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa (Aksara Mahasiswa). Program itu diarahkan agar kontribusi dapat menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat yang berada di lokasi terdampak.
Brian Yuliarto menambahkan, kementeriannya juga terus memperbarui data mahasiswa terdampak untuk menentukan kebutuhan bantuan berikutnya. Koordinasi dengan perguruan tinggi menjadi penting karena kondisi mahasiswa dapat berubah seiring proses pemulihan keluarga dan lingkungan. Dengan skala pengungsi yang mencapai puluhan ribu orang, pembebasan UKT menjadi salah satu intervensi pendidikan di tengah kebutuhan pemulihan yang jauh lebih luas.
Pada akhirnya, gempa bumi yang mengguncang NTT menunjukkan dampak bencana tak berhenti pada kerusakan fisik dan perpindahan masyarakat ke pengungsian. Keberlanjutan pendidikan juga menghadapi tekanan ketika keluarga kehilangan tempat tinggal, sumber pendapatan, hingga akses terhadap layanan dasar. Pembebasan UKT untuk 5.000 mahasiswa menjadi langkah awal, tetapi efektivitasnya akan bergantung pada ketepatan pendataan dan kemampuan Kemdiktisaintek RI memperluas bantuan sesuai perkembangan kondisi di lapangan. (ADR)