JAKARTA, AFU.ID — Wakil Menteri Luar Negeri Yaman Ali Al-Sabri menegaskan pasukan bersenjata negaranya akan terus melancarkan serangan terhadap Arab Saudi sampai blokade terhadap Yaman dihentikan sepenuhnya. Pernyataan itu disampaikan Al-Sabri dalam wawancara dengan media Iran, Tasnim dikutip Kamis (17/9/2026), di tengah meningkatnya kembali konflik antara kelompok Houthi dan Arab Saudi.
Al-Sabri mengatakan serangan terhadap Saudi merupakan bagian dari hak Yaman untuk mempertahankan diri dari apa yang disebutnya sebagai agresi Saudi. Ia juga menyebut operasi militer Yaman di Laut Merah sebagai bagian dari strategi "blokade dibalas blokade". "Angkatan bersenjata kami terus melakukan operasi untuk meningkatkan eskalasi di Laut Merah dalam kerangka persamaan 'blokade untuk blokade'," kata Al-Sabri.
Menurut dia, serangan terbaru terhadap pasukan yang didukung Saudi di dalam wilayah Yaman maupun terhadap sejumlah infrastruktur Saudi di wilayah kerajaan bertujuan menghambat ekspor minyak Saudi. Ia mengatakan operasi tersebut bukan semata-mata untuk menimbulkan kerugian material bagi Riyadh. Menurut dia, serangan diarahkan untuk memberikan tekanan agar Saudi menghentikan konfrontasi dan memenuhi tuntutan yang disebutnya sebagai hak rakyat Yaman.
Pernyataan Al-Sabri muncul ketika konflik Yaman-Saudi kembali mengalami eskalasi setelah relatif mereda selama beberapa tahun. Arab Saudi memimpin koalisi militer yang melakukan intervensi di Yaman sejak 2015 untuk mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dan melawan kelompok Houthi yang menguasai Sanaa serta sebagian besar wilayah utara negara tersebut. Konflik itu kemudian berkembang menjadi perang berkepanjangan yang melibatkan berbagai kekuatan regional.
Houthi sebelumnya berulang kali menyerang wilayah Arab Saudi menggunakan rudal dan drone, termasuk menyasar fasilitas energi dan infrastruktur penting. Serangan terhadap fasilitas minyak Saudi menjadi salah satu titik eskalasi utama dalam perang tersebut. Ketegangan sempat menurun setelah gencatan senjata yang mulai berlaku pada 2022. Namun, situasi kembali memburuk pada 2026. Pada 13 Juli 2026, Houthi meluncurkan rudal ke wilayah selatan Saudi, termasuk ke arah Bandara Internasional Abha. Reuters menyebut serangan itu sebagai serangan Houthi pertama yang diklaim terhadap Saudi sejak gencatan senjata informal pada Maret 2022.
Eskalasi kemudian meningkat pada Agustus. Houthi mengklaim serangan terhadap Bandara Najran, sementara serangan di Provinsi Najran dilaporkan melukai 11 warga sipil. Saudi juga menuding Houthi meningkatkan serangan terhadap sasaran militer, infrastruktur dan pelayaran. Pada September 2026, serangan semakin meluas. Houthi melancarkan serangan rudal dan drone terhadap sejumlah sasaran di Saudi, termasuk kawasan pelabuhan minyak Yanbu di Laut Merah dan pangkalan udara Khamis Mushait. Saudi pada saat yang sama meningkatkan serangan udara terhadap posisi Houthi di Yaman.
Reuters melaporkan pada 16 September bahwa Houthi juga telah bergerak di sepanjang pesisir Laut Merah Yaman dan menguasai sejumlah wilayah serta pulau strategis di dekat Bab el-Mandeb. Perkembangan tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran dan ekspor minyak Saudi.
Konflik tersebut juga berdampak pada sektor energi. Serangan terhadap infrastruktur minyak Saudi, termasuk jalur pipa East-West yang menghubungkan wilayah penghasil minyak di timur dengan pantai Laut Merah, memunculkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak global. Reuters melaporkan serangan terhadap jalur tersebut membuat sebagian ekspor melalui pelabuhan Yanbu terganggu.
Dalam situasi tersebut, Al-Sabri menegaskan Yaman tidak akan menghentikan serangannya selama blokade yang dipersoalkan pihaknya belum dicabut. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa serangan terhadap Saudi kini tidak hanya menjadi bagian dari konflik lama di Yaman, tetapi juga berkaitan dengan perebutan kendali dan tekanan terhadap jalur energi serta pelayaran di Laut Merah. (EER)