JAKARTA, AFU.ID — Tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka berada di angka 55,1 persen pada Agustus 2026. Angka tersebut menunjukkan penurunan dibandingkan hasil survei pada periode sebelumnya yang masih mencatat tingkat kepuasan lebih tinggi. Temuan itu merupakan hasil survei nasional Poltracking Indonesia yang digelar pada 14–20 Agustus 2026.
Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia Hanta Yuda AR menyebut, tren penurunan kepuasan terlihat sejak beberapa bulan terakhir. Tingkat kepuasan yang sebelumnya mencapai 78 persen pada Oktober 2025 turun menjadi 74 persen pada Maret 2026, kemudian 70 persen pada Mei dan terus merosot hingga 55,1 persen pada Agustus. Survei tersebut dilakukan melalui wawancara tatap muka terhadap 1.220 responden di 38 provinsi dengan margin of error (MoE) sekitar 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Penurunan tingkat kepuasan publik ini beriringan dengan desakan untuk melakukan perombakan kabinet. Sebanyak 51,9 persen responden menilai reshuffle kabinet perlu dilakukan, sedangkan 27,9 persen lainnya menyatakan tidak perlu. Bidang ekonomi menjadi sektor yang paling banyak dianggap perlu mendapat perhatian dengan angka 30,8 persen, disusul bidang hukum sebesar 22 persen.
Persoalan ekonomi rumah tangga menjadi salah satu faktor yang menonjol dalam hasil survei tersebut. Sebanyak 44,3 persen responden menyebut mahalnya harga kebutuhan pokok sebagai persoalan utama, 62,5 persen mengaku pengeluaran rumah tangga mereka meningkat dalam setahun terakhir. Hanta menilai, kondisi tersebut menunjukkan adanya tekanan terhadap daya beli masyarakat ketika peningkatan penghasilan tidak sebanding dengan kenaikan harga kebutuhan.
“Data ini menunjukkan adanya situasi ekonomi daya beli masyarakat itu melemah, karena bisa jadi faktor penghasilan tidak meningkat, tetapi harga kebutuhan pokok justru meningkat,” jelas Hanta saat memaparkan hasil survei secara daring, Senin (31/8/2026). Selain ekonomi, komunikasi pemerintahan juga mendapat penilaian yang belum terlalu kuat dengan tingkat kepuasan 51,2 persen. Temuan lain mencatat 55,6 persen responden menilai harga kebutuhan pokok dalam sebulan terakhir berada pada tingkat tidak terjangkau.
Survei tersebut juga mencatat 40,2 persen responden menyatakan kurang puas atau tidak puas terhadap kinerja Pemerintahan Prabowo-Gibran. Hanta menilai hasil survei ini perlu menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah untuk memperbaiki kinerja kabinet, terutama dalam menghadapi persoalan yang langsung dirasakan masyarakat. “Ini angka yang tidak membahagiakan. Angka ini lagi-lagi adalah angka sebagai pemacu untuk pemerintah memperbaiki kinerja kabinetnya,” ujar Hanta. (RAI)