JAKARTA, AFU.ID — Mini Recirculating Aquaculture System (RAS) menjadi bagian dari rencana pengembangan budi daya perikanan darat untuk menopang ketahanan pangan Indonesia dan Australia. Teknologi itu memungkinkan penggunaan kembali air dalam sistem produksi yang membuat kondisi lingkungan budidaya lebih terkendali. Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia (KKP RI) menargetkan pengembangan 40.000 unit yang akan menyasar ke ratusan desa potensial.
Sebagai informasi, Tasmania menjadi salah satu negara yang telah menerapkan teknologi tersebut untuk meningkatkan produktivitas perikanan budi dayanya. Pengalaman itu menjadi salah satu rujukan pengembangan teknologi serupa dalam program budi daya perikanan darat Indonesia. Namun, penerapan dalam skala 40.000 unit membutuhkan kesiapan infrastruktur, sumber daya manusia (SDM), dan pendampingan teknis di tingkat desa.
Menteri KP RI, Sakti Wahyu Trenggono pun mengaku telah melihat secara langsung cara kerja Mini RAS di Tasmania. “Kami siap mengembangkan 40.000 unit mini-RAS untuk diterapkan di ratusan desa di Indonesia,” ungkapnya dilansir dari website KKP RI, Rabu (9/9/2026).
Sakti Wahyu Trenggono bahkan menyatakan rencana tersebut ketika bertemu dengan Duta Besar Australia untuk Indonesia, yakni Rod Brazier. Pertemuan berlangsung di Kantor KKP RI, Jakarta Pusat, Selasa (1/9/2026) lalu, untuk membahas penguatan kolaborasi perikanan kedua negara. Kerja sama itu mengarah kepada teknologi budi daya, peningkatan kapasitas produksi, transfer pengetahuan, dan keberlanjutan ekosistem.
Adapun komoditas akan masuk dalam program budi daya perikanan tematik adalah nila dan lele. Ke depan, KKP RI juga merencanakan pengembangan komoditas pangasius, barramundi, grouper, hingga jade perch. Diversifikasi komoditas menunjukkan teknologi Mini RAS diproyeksikan mempunyai penggunaan lebih luas dibandingkan program awalnya.
Menteri Trenggono menyampaikan, pihaknya juga mengarahkan kerja sama dengan Australia pada manfaat ekonomi yang lebih langsung bagi masyarakat. Ia menilai, investasi harus berjalan bersama pemberdayaan dan peningkatan kapasitas masyarakat. “Harapan kami, peningkatan kerja sama perikanan ini tidak sebatas investasi, tetapi juga pada pemberdayaan masyarakat, peningkatan kapasitas produksi, transfer teknologi, dan keberlanjutan ekosistem yang dibangun,” tuturnya.
Sementara itu, Rod Brazier menyebut pengalaman Australia dapat menjadi ruang pertukaran pengetahuan dengan Indonesia. Pengalaman itu mencakup riset untuk meningkatkan produktivitas sekaligus mengurangi dampak lingkungan dalam industri budidaya. “Semoga ke depannya, Indonesia dan Australia dapat melihat kekuatan masing-masing agar dapat bersama-sama membangun serta menjaga ekosistem dan ketahanan pangan,” ujarnya.
Target 40.000 unit menunjukkan ambisi besar digitalisasi dan modernisasi budi daya, tetapi ukuran keberhasilannya tak cukup dari jumlah unit terpasang. KKP RI harus memastikan Mini RAS benar-benar meningkatkan produktivitas desa, menekan biaya produksi, serta menghasilkan manfaat ekonomi berkelanjutan bagi pembudidaya. (ADR)