JAKARTA, AFU.ID — Debit Sungai Barito di Kalimantan Tengah menyusut drastis selama musim kemarau 2026. Ketinggian air di Pelabuhan Muara Teweh, Kabupaten Barito Utara, dilaporkan berada di bawah satu meter. Kondisi tersebut membuat kapal besar tidak dapat melintasi jalur transportasi sungai itu.
Kedalaman Sungai Barito pada kondisi normal berkisar antara 5 hingga 11 meter. Penurunan muka air menyebabkan hamparan pasir dan bagian dasar sungai terlihat di sejumlah lokasi hingga menyerupai kawasan gurun. Pemandangan tidak biasa tersebut kemudian ramai dibagikan melalui media sosial.
Dinas Perhubungan Kabupaten Barito Utara mencatat penyusutan debit telah mengganggu operasional kapal kargo, kapal tarik, dan tongkang. Kapal bertonase besar tidak dapat beroperasi karena berisiko kandas pada bagian sungai yang dangkal. Aktivitas transportasi untuk sementara lebih banyak mengandalkan kelotok atau perahu bermotor berukuran kecil.
Gangguan pelayaran turut memengaruhi distribusi barang menuju kawasan yang bergantung pada Sungai Barito. Kapasitas angkut kelotok lebih kecil dibandingkan kapal kargo dan tongkang sehingga pengiriman harus disesuaikan. Belum terdapat keterangan mengenai nilai kerugian maupun jumlah kapal yang berhenti beroperasi.
Dampak penyusutan sungai juga dirasakan warga yang tinggal di sepanjang bantaran. Sebagian masyarakat mulai mengalami kesulitan memperoleh air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Air yang tersisa di beberapa bagian sungai juga semakin sulit dijangkau akibat garis tepian yang mundur.
Minimnya hujan di wilayah hulu disebut menjadi salah satu penyebab utama turunnya debit Sungai Barito. Kondisi tersebut diperparah oleh sedimentasi berupa endapan lumpur dan pasir yang membuat dasar sungai semakin dangkal. Kombinasi kedua faktor itu mempersempit jalur yang masih dapat dilalui kapal.
BMKG menyatakan seluruh wilayah Kalimantan Tengah telah memasuki musim kemarau pada awal Agustus 2026. Puncak musim kemarau di sejumlah wilayah diperkirakan berlangsung pada Agustus hingga September. Curah hujan di Kalimantan Tengah juga diprediksi tetap berada dalam kategori rendah hingga pertengahan September.
Pelaku usaha transportasi air diminta menyesuaikan kapasitas angkutan dan mempertimbangkan jalur alternatif selama sungai masih dangkal. Pemantauan kedalaman perlu dilakukan sebelum kapal berangkat karena kondisi dapat berbeda di setiap bagian sungai. Operasional kapal besar baru dapat kembali normal setelah muka air meningkat dan jalur dinyatakan aman untuk dilalui. (RHU)