JAKARTA, AFU.ID — Pemandangan gurun di sekitar Madinah, Arab Saudi, berubah setelah hujan mengguyur wilayah tersebut selama tiga hari. Aliran air muncul di sejumlah bentang gurun, mengubah hamparan pasir menjadi seperti sungai dadakan. Hujan dengan intensitas ringan hingga sedang melanda sejumlah kawasan di wilayah Madinah. Di beberapa lokasi, curah hujan yang lebih deras menyebabkan air mengalir dan membentuk aliran permukaan di kawasan gurun.
Pemandangan tersebut disaksikan off-roader Jawaher Shaheen bersama suaminya yang menjelajahi sejumlah lokasi di sekitar Madinah setelah hujan deras turun. Shaheen mengatakan mereka mengunjungi beberapa titik dengan jarak sekitar 15-20 kilometer antarlokasi. Hujan semakin deras ketika perjalanan berlangsung. "Tempat pertama yang kami datangi adalah Al-Qaa di Afrah Al-Raddadi sekitar pukul 16.00, ketika hujan mulai turun dengan stabil," kata Shaheen kepada Arab News, dikutip Afu.id, Minggu (30/8/2026).
Mereka kemudian menuju Al-Furaish. Di lokasi kedua, hujan turun lebih deras hingga air mulai mengalir. "Di lokasi kedua, hujan lebih deras. Karena intensitasnya, air banjir mulai mengalir," ujarnya. Perjalanan antara kedua lokasi memakan waktu sekitar satu jam. Shaheen mengatakan hujan paling deras terjadi di sekitar Malaf Aar di Al-Sadarah.
Hujan di lokasi pertama dan kedua berlangsung antara 15 hingga 30 menit dan cukup deras, kemudian berubah menjadi lebih ringan hingga matahari terbenam. Menurut Shaheen, hujan kemudian terus berlangsung selama tiga hari dengan intensitas paling tinggi terjadi pada Jumat. Shaheen yang berpengalaman menjelajahi berbagai wilayah Arab Saudi dengan kendaraan off-road mengaku tertarik dengan kawasan Madinah karena memiliki bentang alam yang beragam, termasuk wilayah gurun.
Ia mengatakan hujan membuat lanskap yang biasanya kering berubah dengan cepat. "Masih ada kemungkinan hujan turun lagi. Kami sangat menantikan musim ini dan menunggu lanskap berubah dari gurun menjadi aliran air, sebelum kemudian menghijau dan menjadi seperti surga tersembunyi," ujarnya.
Fenomena tersebut tidak berarti seluruh gurun Madinah berubah menjadi sungai. Aliran air muncul secara lokal setelah hujan deras mengguyur kawasan tertentu dan dapat berlangsung sementara sebelum air meresap atau mengalir ke wilayah yang lebih rendah.
Hujan Lebat Masih Berpotensi Turun
Pusat Meteorologi Nasional Arab Saudi memperkirakan badai petir yang disertai hujan es masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah, termasuk Jazan, Asir, Al-Baha, Makkah, dan Madinah. Awan badai juga berpotensi terbentuk di wilayah Hail, Al-Jouf, Perbatasan Utara, Provinsi Timur, dan Najran. Di sejumlah daerah, angin kencang yang membawa debu dan pasir juga diperkirakan terjadi. Kondisi tersebut berpotensi menurunkan jarak pandang secara drastis.
Untuk kawasan Laut Merah, kecepatan angin diperkirakan mencapai 15-35 kilometer per jam dan dapat melebihi 50 kilometer per jam di sekitar awan badai. Tinggi gelombang diperkirakan 0,5-1,5 meter dan dapat meningkat hingga lebih dari 2 meter saat badai petir. Sementara itu, kondisi di Teluk Arab diperkirakan relatif lebih tenang dengan kecepatan angin 10-30 kilometer per jam dan tinggi gelombang sekitar 0,5-1 meter.
Hujan yang muncul pada akhir Agustus juga bertepatan dengan periode kemunculan bintang Suhail yang secara tradisional dikenal masyarakat Arab sebagai salah satu penanda perubahan musim. Spesialis astronomi Majed Al-Sahoubi menjelaskan waktu kemunculan Suhail berbeda-beda berdasarkan wilayah Arab Saudi. "Di Jazan, Suhail muncul sekitar 7 Agustus, di wilayah tengah Arab Saudi sekitar 24 Agustus, dan di wilayah paling utara sekitar 7 hingga 10 September," katanya kepada Arab News.
Namun, Al-Sahoubi menegaskan kemunculan Suhail tidak menyebabkan hujan. "Bangsa Arab telah mengenal dan menghargai Suhail sejak zaman dahulu, tetapi kemunculannya tidak memiliki hubungan langsung dengan hujan," ujarnya. Menurut dia, Suhail lebih tepat dipahami sebagai penanda perubahan kondisi cuaca yang mulai membaik, bukan penyebab perubahan tersebut.
Di kawasan gurun, hujan pada periode ini juga cenderung tidak teratur. Musim hujan yang lebih konsisten di kawasan gurun Arab Saudi biasanya baru mulai sekitar pertengahan Oktober. Fenomena hujan di sekitar Madinah pun menunjukkan bagaimana dalam waktu singkat lanskap gurun yang identik dengan kondisi kering dapat berubah menjadi kawasan yang dialiri air, sebelum kembali mengering dan berpotensi menghijau ketika curah hujan berlanjut. (EER)