JAKARTA, AFU.ID — Sebanyak tujuh rangkaian (train set) KRL produksi PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA, khususnya jenis EA-207 CLI-225 atau dikenal sebagai seri iE305, harus ditarik serentak dari jalur rel untuk menjalani pemeriksaan menyeluruh (general check up) di bengkel perawatan sejak 7-30 September 2026. Penarikan serentak ini diambil demi keselamatan perjalanan setelah serangkaian gangguan teknis berulang dan insiden serius melanda armada yang baru beroperasi sekitar sembilan bulan tersebut.
KRL seri iE305 sebenarnya baru resmi memperkuat layanan Commuter Line di rute padat Jakarta Kota–Bogor pada 16 Desember 2025. Saat pertama kali mengaspal, KRL buatan Madiun ini diandalkan karena telah dilengkapi sistem traksi Variable Voltage Variable Frequency (VVVF) terbaru serta Train Monitoring System (TMS) untuk pemantauan terpusat. Rangkaian dengan formasi 12 gerbong (SF12) ini mampu menampung rata-rata 283 penumpang per gerbong dan dibekali fasilitas modern seperti papan informasi digital, emergency intercom, hingga fasilitas aksesibilitas kursi roda.
Namun, jejak operasional KRL ini diwarnai sejumlah catatan masalah teknis. Hanya selang dua pekan sejak peluncuran perdananya, yakni pada 29 Desember 2025, KRL buatan INKA ini sempat viral di media sosial akibat gangguan pada sistem pintu otomatis. Kala itu, keluhan pengguna yang tertahan akibat pintu kereta gagal menutup rapat memaksa tim teknisi INKA turun tangan langsung mengawal perjalanan.
VP Corporate Secretary KAI Commuter Karina Amanda saat itu,mengakui adanya kendala tersebut. "Saat ini karena memang PT INKA masih terus melakukan pendampingan teknis atas CLI 225 yang merupakan produksi PT INKA," ungkap Karina.
Puncak persoalan teknis terjadi pada Jumat, (4/9/2026), ketika KRL produksi INKA ini mengalami insiden anjlok sebanyak dua kali dalam sehari. Kejadian pertama berlangsung pada Jumat pagi di Stasiun Jakarta Kota. Ironisnya, saat rangkaian kereta yang sama hendak dievakuasi menuju Balai Yasa Manggarai untuk perbaikan pada siang harinya, KRL tersebut kembali anjlok di area Stasiun Manggarai.
Manager Public Relations KAI Commuter, Leza Arlan, mengonfirmasi kejadian beruntun tersebut. "Anjloknya sarana Commuter Line di Stasiun Manggarai pada Jumat siang, adalah rangkaian sarana Commuter Line yang sama sebelumnya mengalami insiden anjlok di Stasiun Jakarta Kota pada pagi harinya," jelas Leza. Insiden ganda ini memicu gangguan perjalanan hebat hingga rute dari Bogor sempat dipangkas hanya sampai Stasiun Jayakarta atau Manggarai, dan penanganan kasusnya kini melibatkan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).
Menanggapi rentetan kendala ini, KAI Commuter dan PT INKA sepakat mengandangkan sementara seluruh rangkaian seri iE305 untuk audit keselamatan total. Penarikan tujuh train set tersebut berdampak langsung pada operasional harian KRL Jabodetabek, di mana KAI Commuter terpaksa membatalkan 17 perjalanan per hari yang berfokus di lintas Bogor.
Pembatalan tersebut mencakup tujuh perjalanan dari arah Bogor/Cilebut/Depok menuju Manggarai/Jakarta Kota dan lima perjalanan arah sebaliknya pada jam sibuk pagi, serta dua perjalanan dari Manggarai menuju Bogor dan tiga perjalanan dari Bogor pada sore hari. Akibat penyesuaian ini, total perjalanan harian KRL Jabodetabek merosot dari 1.065 perjalanan menjadi 1.048 perjalanan pada hari kerja.
"Saat ini kami melakukan proses perawatan rangkaian sarana KRL yang ada secara intensif, demi keselamatan dan keamanan perjalanan. Kami memahami pasti akan ada ketidaknyamanan bagi para pengguna Commuter Line selama proses perawatan ini. Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan," imbau Karina Amanda.
Pihak PT INKA menegaskan komitmennya untuk bertanggung jawab penuh atas keandalan sarana yang diproduksi. Senior Manager Corporate Communication dan Representative Office PT INKA, Nanang Agung Rohmandiyas menyatakan, tim engineering dan quality assurance dari Madiun diturunkan langsung ke fasilitas perawatan bersama tim teknis KAI Commuter. Pemeriksaan difokuskan pada komponen-komponen vital pelayaran, termasuk sistem bogie (roda dan rangka bawah) serta sistem propulsi.
"Sejak awal proses ini berlangsung, tim engineering dan quality assurance kami sudah terjun langsung bersama tim KAI Commuter untuk memastikan setiap komponen, termasuk bogie dan sistem propulsi, berfungsi optimal. Kami mendukung penuh proses ini demi memastikan keandalan dan keselamatan sarana," ujar Nanang, Selasa (8/9/2026).
Nanang menambahkan bahwa koordinasi intensif terus berjalan hingga masa general check up selesai di akhir September 2026. "Bagi kami, ini adalah bentuk tanggung jawab sebagai manufaktur dan sinergi dalam ekosistem perkeretaapian. Tentunya dengan tujuan meningkatkan kualitas produk demi kenyamanan dan keselamatan pengguna Commuter Line," pungkasnya. (MAR)