JAKARTA, AFU.ID – Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menilai pertunjukan Opera Batak dapat dikembangkan untuk menarik wisatawan sekaligus membuka kegiatan ekonomi bagi seniman dan pelaku usaha di daerah. Menurut Riefky, pertunjukan berbasis budaya tidak hanya melibatkan pemain dan musisi, tetapi juga penyelenggara acara, pelaku kuliner, kriya, fesyen, hingga sektor pariwisata.
“Ketika budaya dikelola dengan baik, dikemas secara kreatif, dan diperkenalkan kepada generasi muda, maka budaya dapat menjadi sumber inspirasi, kebanggaan, sekaligus sumber pertumbuhan ekonomi,” kata Riefky dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (12/7/2026). Ia menyebut kawasan Danau Toba memiliki peluang mengembangkan kegiatan ekonomi kreatif dengan memanfaatkan budaya Batak sebagai dasar pertunjukan dan produk turunannya.
Namun, peluang tersebut bergantung pada keberlanjutan kegiatan, keterlibatan pelaku lokal, serta kemampuan penyelenggara menghubungkan pertunjukan dengan sektor wisata dan usaha masyarakat. Tona Sian Huta yang berarti pesan dari kampung halaman memadukan pertunjukan Opera Batak dengan konser musik bernuansa tradisional dan modern.
Acara tersebut melibatkan 27 pemain opera dan 30 musisi lokal maupun nasional, termasuk Maria Simorangkir, Victor Hutabarat, dan Style Voice. Komika Joel Purba juga tampil dalam kegiatan tersebut. Sebanyak 50 pelaku UMKM turut membuka stan yang menawarkan produk kuliner, kriya, dan fesyen. Keterlibatan mereka menjadi bagian dari upaya menghubungkan panggung budaya dengan kegiatan usaha masyarakat.
Wakil Ketua Komisi VII DPR sekaligus inisiator acara, Lamhot Sinaga, mengatakan Opera Batak merupakan aset budaya yang perlu dipertahankan dan diperkenalkan kembali. “Melalui Tona Sian Huta, kami ingin menghidupkan kembali warisan budaya Batak sekaligus menjadikan budaya, ekonomi kreatif, pariwisata, dan UMKM sebagai satu ekosistem,” kata Lamhot. (FAD)