JAKARTA, AFU.ID — Petani kelapa sawit dari tujuh negara membentuk World Coalition of Oil Palm Smallholders (WCOPS) untuk memperkuat posisi petani dalam menghadapi persoalan industri sawit, terutama harga, perdagangan yang adil, produktivitas, dan hubungan dengan korporasi. Koalisi tersebut dibentuk dalam International Oil Palm Smallholders (IOPS) Forum 2026 di Ibu Kota Nusantara (IKN), Kamis (27/8/2026).
Sebanyak 12 asosiasi petani sawit dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Nigeria, Ghana, Honduras, dan Pantai Gading memberikan mandat kepada Ketua Umum DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) Gulat Medali Emas Manurung sebagai Presiden WCOPS. Gulat mengatakan pembentukan WCOPS menjadi upaya menyatukan petani sawit dunia sekaligus mendorong hubungan yang lebih setara dengan korporasi.
“Penugasan saya sebagai President WCOPS ini menjadi monumen untuk mempersatukan petani sawit dunia dengan mengusung konsep kesetaraan dan saling mendukung dengan korporasi sawit, bukan sebaliknya,” kata Gulat melalui keterangan pers, Senin (31/8/2026). Salah satu persoalan yang menjadi agenda utama adalah harga yang diterima petani.
National President of the Oil Palm Development Association of Ghana (OPDAG) Paul Kwabena Amaning berharap Indonesia dapat membantu memperjuangkan kepentingan petani sawit di berbagai negara. “Kami sangat berharap kepada Indonesia sebagai negara sawit terbesar untuk dapat saling menolong petani sawit di seluruh dunia,” kata Amaning.
Selain harga, WCOPS akan membawa agenda perdagangan yang adil, produktivitas, keberlanjutan, ketelusuran, harga tandan buah segar (TBS), serta hubungan petani dengan korporasi. Gulat menilai hubungan petani dan korporasi perlu dibangun secara saling mendukung, termasuk ketika industri sawit menghadapi kampanye negatif.
“Petani perlu membangun hubungan yang saling mendukung dengan korporasi agar industri sawit memberikan manfaat bagi seluruh pihak, terkhusus saat menghadapi kampanye negatif tentang sawit, harus dihadapi bersama semua stakeholders sawit,” ujarnya. Saat ini WCOPS beranggotakan petani dari tujuh negara. Kepemimpinan organisasi akan dilakukan secara bergiliran oleh negara penghasil minyak sawit setiap lima tahun. Papua Nugini disebut akan menyusul bergabung.
Perwakilan petani sawit Nigeria, Amb. Alphonsus Inyang, meminta organisasi tersebut segera membentuk kepengurusan agar dapat menjalankan agenda yang telah ditetapkan. “Kita berpacu dengan waktu, WCOPS harus berguna untuk sawit dunia,” kata Inyang. Gulat menyampaikan terima kasih kepada 12 asosiasi dari tujuh negara yang memberikan mandat kepadanya untuk memimpin WCOPS. “Saya mengucapkan terima kasih kepada tujuh negara yang hadir dan 12 asosiasi petani sawit dunia yang telah memberikan kepercayaan kepada saya,” ujarnya. (FAD)