JAKARTA, AFU.ID - Nilai tukar rupiah dinilai tengah menanggung tekanan ekonomi yang besar di tengah pelemahannya hingga menembus level Rp17.800 per dolar AS di pasar offshore atau luar negeri. Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian mengatakan, dalam kondisi normal kenaikan harga energi global biasanya memberi tekanan pada inflasi, fiskal, harga domestik, hingga nilai tukar.
Namun, menurut dia, penyesuaian harga di dalam negeri saat ini dilakukan secara hati-hati demi menjaga stabilitas sosial dan daya beli masyarakat. Kondisi tersebut membuat tekanan ekonomi lebih banyak berpindah ke nilai tukar rupiah.
“Rupiah akhirnya menjadi shock absorber utama. Inflasi ditahan, harga energi ditahan, tetapi tekanan ekonominya tidak hilang. Tekanan itu pindah ke kurs,” jelas Fakhrul.
Ia menilai pelemahan rupiah saat ini terlihat lebih besar dibanding sejumlah indikator ekonomi lainnya. Fakhrul menyebut situasi tersebut sejalan dengan teori Dornbusch Overshooting, ketika harga domestik cenderung rigid sementara pasar keuangan bergerak lebih cepat sehingga nilai tukar bergerak lebih ekstrem dibanding fundamental ekonominya.
“Inflasi yang seharusnya muncul di banyak tempat akhirnya terlalu banyak ditanggung oleh rupiah,” ujar dia.
Fakhrul mengatakan fenomena serupa kerap terjadi di negara berkembang yang memilih menjaga stabilitas harga domestik dalam jangka pendek. Di sisi lain, pemerintah dihadapkan pada dilema antara menjaga daya beli masyarakat dan mempertahankan stabilitas eksternal.
Menurut dia, langkah pemerintah menahan penyesuaian harga energi dapat dipahami dari sisi sosial dan politik, tetapi konsekuensinya tekanan ekonomi menjadi lebih terkonsentrasi di pasar keuangan.
“Kalau harga domestik dibuat rigid sementara tekanan global terus naik, maka pasar valuta asing akhirnya yang bergerak paling ekstrem,” imbuh dia.
Meski demikian, Fakhrul memandang fundamental ekonomi Indonesia masih relatif baik dibanding banyak negara berkembang lainnya. Inflasi domestik dinilai masih terkendali, sektor perbankan tetap sehat, dan pertumbuhan ekonomi masih positif.
Namun, ia mengingatkan pasar saat ini tidak hanya memperhatikan angka-angka utama ekonomi, melainkan juga kekuatan arah kebijakan pemerintah.
“Pasar melihat apakah Indonesia punya policy anchor yang cukup kuat untuk menghadapi era global baru yang jauh lebih volatile dan inflationary,” ujar dia.
Fakhrul menambahkan, yang sedang diuji bukan hanya fundamental ekonomi, tetapi juga kredibilitas dan konsistensi kebijakan. Ia mengakui tekanan terhadap rupiah turut dipengaruhi faktor global seperti geopolitik, fragmentasi perdagangan dunia, penguatan dolar AS, dan tingginya imbal hasil US Treasury.
Akan tetapi, menurutnya faktor domestik juga ikut memengaruhi karena pasar melihat adanya ketidakseimbangan antara kebijakan fiskal dan moneter. Selain itu, komunikasi kebijakan yang muncul mendadak di tengah sentimen pasar yang negatif dinilai turut meningkatkan ketidakpastian.
“Ketika fiskal memilih menjaga inflasi tetap rendah dan adjustment harga sangat terbatas, maka BI dan rupiah harus bekerja jauh lebih keras,” kata Fakhrul.
Rupiah di pasar offshore tercatat melemah hingga melewati level Rp17.800 per dolar AS saat pasar domestik libur Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah pada Rabu (27/5) dan Kamis (28/5). (FAD)