Ancaman Balik Iran
Teheran merespons kebijakan tersebut dengan memperingatkan negara-negara tetangga yang mengikuti pembatasan AS. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei meminta negara-negara di sekitar Iran tidak terlibat dalam kebijakan Washington. “Saya mendesak semua negara tetangga kita untuk tidak terlibat dalam petualangan Amerika Serikat. Petualangan ini akan segera berakhir dengan kegagalan,” kata Rezaei kepada media pemerintah Iran, dikuti dari Al Jazeer, Kamis (24/9/2026).
Pada Rabu, Rezaei kembali memperingatkan negara yang bekerja sama dengan AS untuk menghentikan penerbangan Iran. “Jika suatu negara bekerja sama atau terlibat dalam petualangan dengan Amerika Serikat, bandara-bandara di negara tersebut tidak akan lagi dapat mengoperasikan penerbangan ke Iran,” kata Rezaei kepada televisi pemerintah Iran.
Ia juga mengatakan Iran akan memastikan bandara di negara-negara yang menghentikan penerbangan Iran “tidak dapat berfungsi”. Namun, Iran belum menjelaskan secara terbuka langkah yang akan digunakan untuk mewujudkan ancaman tersebut. Rezaei juga tidak merinci apakah respons Teheran akan berbentuk diplomatik, ekonomi, atau militer.
Akibat pembatasan yang diberlakukan Amerika Serikat (AS), pilihan penerbangan internasional dari Iran semakin terbatas. Data perusahaan analisis penerbangan Cirium menunjukkan kapasitas penerbangan internasional dari Iran pada Agustus 2026 turun 49 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sejumlah wisatawan Iran bahkan mulai menggunakan jalur darat melalui negara seperti Turki dan Armenia. Dampaknya tidak hanya dirasakan penumpang. Pembatasan penerbangan berpotensi memengaruhi pekerjaan di industri penerbangan serta sektor pariwisata dan perhotelan. Wolfgang Pusztai, analis keamanan dan pertahanan sekaligus mantan atase pertahanan Austria, menilai dampak praktis langsung dari kebijakan AS kemungkinan terbatas karena Iran masih memiliki koneksi penerbangan dengan sejumlah negara.
“Saya rasa Turki tidak akan berhenti bekerja sama dengan mereka, atau Pakistan atau China,” kata Pusztai kepada Al Jazeera. “Dan terlebih lagi, seperti yang saya katakan, ada maskapai penerbangan lain yang melayani Iran dari luar negeri, jadi dampak praktisnya akan terbatas,” ujarnya. Menurut Pusztai, dampak yang lebih besar justru dapat dirasakan secara psikologis oleh masyarakat Iran ketika penerbangan internasional semakin terbatas.
“Hal ini tentu akan berkontribusi pada persepsi masyarakat Iran tentang meningkatnya isolasi, dan ini mungkin alasan di balik reaksi keras dari pihak Iran,” katanya. Ia menilai pembatasan penerbangan berbeda dari sanksi terhadap lembaga keuangan karena dampaknya dapat terlihat langsung. “Blokade udara semacam itu pasti langsung terlihat,” ujar Pusztai. Meski demikian, Pusztai tidak menilai sanksi penerbangan saja cukup untuk mengubah kebijakan Teheran. “Apakah itu cukup untuk mematahkan tekad negara? Sama sekali tidak. Sama sekali tidak,” katanya. (FAD)




























