JAKARTA, AFU.ID — Dunia maya, khususnya media sosial X, mendadak dihebohkan isu seputar penghapusan sebuah artikel opini bertajuk 'Hipermiliterisasi Program Sipil' yang tayang di Kompas.com pada Rabu (26/8/2026). Tulisan mendalam tersebut memicu perhatian luas publik lantaran ditulis langsung oleh Wahyu Suryodarsono, seorang perwira aktif TNI Angkatan Udara yang juga menjabat sebagai dosen di Skuadron Pendidikan Siber AU.
Tulisan tersebut dipandang langka dan berani karena memberikan kritik akademis dari dalam institusi militer terhadap tren pelibatan militer dalam program-program sipil. Sorotan publik makin tajam ketika akun-akun pengamat pertahanan dan akademisi membagikan tangkapan layar tulisan tersebut.
Salah satunya adalah akun C. Guntur Lebang yang mengapresiasi karya juniornya di SMA tersebut. "Yang nulis perwira TNI AU, dosen di Skuadron Pendidikan Siber AU. Kebetulan juga junior saya di SMA. Really worth your time," ujarnya, dikutip, Kamis (27/8/2026).
Kutipan pembuka artikel yang juga diunggah oleh akun pemantau intelijen JATOSINT yang menegaskan inti gagasan tulisan tersebut. "Sejatinya, kemajuan program pemerintah bukan terletak pada militerisasi birokrasi, tetapi lebih cenderung pada kapabilitas sumber daya manusia yang professional dan berintegritas, serta penguatan institusi sipil berkelanjutan," ujar akun tersebut.
Dalam isi artikelnya, Wahyu menguraikan berbagai dampak krusial dari penerapan nilai militer pada ranah sipil. Ia menyoroti bagaimana istilah loyalitas sering mengalami pergeseran makna yang mengkhawatirkan.
"Sayangnya, interpretasi 'loyalitas kepada negara' dalam hal ini sering disalahartikan dengan loyalitas masyarakat kepada figur pemimpin ataupun perseorangan tertentu, yang kerap kali terafiliasi identitasnya sebagai bagian dari representasi negara itu sendiri," tulisnya.
Risiko ini dinilai menghasilkan indoktrinasi elektoral yang membuat masyarakat abai terhadap proses kritis dalam menilai efektivitas kebijakan pemerintah di lapangan. Selain itu, Wahyu merujuk pada pemikiran ilmuwan politik Cynthia Enloe mengenai konsep militarization by stealth atau militerisasi senyap yang dapat menormalisasikan nilai hierarkis dan pengabaian kritik.
Ia menegaskan, bahaya terbesar bukan sekadar latihan fisik, melainkan ketika nilai-nilai militer mulai dijadikan tolak ukur tunggal pada profesionalisme sipil. Keberhasilan tugas akhirnya hanya didasarkan pada loyalitas atas perintah atasan serta menghasilkan kosmetika lapangan semata yang melahirkan jargon 'Asal Bapak Senang'.
Dengan mengutip buku The Soldier and the State karya Samuel P. Huntington, ia mengingatkan bahwa ketika masyarakat sipil mengadopsi logika militer, batas institusional akan rusak secara perlahan hingga berefek pada melemahnya transparansi. Namun, tidak lama setelah artikel tersebut memicu diskusi hangat di media sosial, tautan berita tersebut dilaporkan menghilang atau tak lagi dapat diakses di portal Kompas.com.
Langkah penghapusan ini mendulang gelombang kekecewaan dan penyesalan dari para netizen di X. Banyak pihak menilai langkah tersebut sebagai bentuk pembatasan terhadap ruang diskusi akademis yang sehat, terlebih gagasan kritis tersebut datang dari seorang perwira aktif yang berlandaskan kajian ilmiah ilmiah dan profesionalisme militer. Netizen menyayangkan hilangnya panggung bagi pemikiran jernih yang seharusnya dipelihara dalam iklim demokrasi dan reformasi sektor keamanan. (MAR)