JAKARTA — Kapal Induk Giuseppe Garibaldi, eks Angkatan Laut Italia tiba di Dermaga 107, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara Jumat (18/9/2026) pagi sekitar pukul 07.58 WIB setelah berlayar dari Italia pada 24 Agustus 2026. Sejumlah pejabat tinggi TNI menyambut kedatangan kapal yang sudah berusia empat dekade itu. Saat memasuki perairan Indonesia melalui Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) I atau perairan Bangka, kapal tersebut dikawal KRI Brawijaya-320 dan KRI Prabu Siliwangi-321.
Kedatangan Garibaldi adalah babak baru bagi TNI AL karena kapal tersebut akan menjadi kapal induk pertama yang dimiliki Indonesia. Tetapi, ada dua isu yang sempat berhenti dibicarakan, yaitu mengenai usia kapal dan biaya operasional tahunan. Garibaldi dibangun pada 1983 dan mulai bertugas pada 1985. Anggota Komisi I DPR TB Hasanuddin sebelumnya mengingatkan bahwa kapal tersebut telah melewati usia 40 tahun, sementara masa pakai umum kapal perang berada di kisaran 30-40 tahun. Angkatan Laut Italia sendiri telah menghentikan operasi Kapal Garibaldi sejak 2024 lalu. Usia senja membuat kapal ini tidak mudah dirawat. TNI AL perlu melakukan sejumlah peremajaan di berbagai sisi agar kapal ini dapat beroperasi dengan layak.
Hasanuddin mengutip laporan The National Interest yang menyebut Angkatan Laut Italia mengeluarkan sekitar 5 juta euro atau sekitar Rp101 miliar per tahun untuk mempertahankan Garibaldi. "Karena itu, keputusan ini harus dikaji secara menyeluruh, tidak hanya dilihat dari nilai hibahnya," kata Hasanuddin pada Mei 2026. Biaya tersebut belum mencakup kebutuhan modernisasi, seperti pembaruan radar, sistem komunikasi, persenjataan, suku cadang, serta pelatihan kru.
Kapal ini memang pemberian, tetapi tidak berarti tanpa biaya. Komisi I DPR sendiri saat menyetujui penerimaan hibah pada Juli 2026 memberikan perhatian terhadap kesiapan operasional, keberlanjutan anggaran, sumber daya manusia, doktrin operasi, serta transfer teknologi. Nilai hibah Garibaldi tercatat sebesar 54.022.426,67 euro. Berdasarkan persetujuan DPR, nilainya sekitar Rp1,1 triliun.
Pemerintah berencana melakukan refurbishment dan mengubah fungsi Garibaldi menjadi kapal induk helikopter sekaligus platform pendukung pengoperasian drone. Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menyebut kapal tersebut dapat menampung hingga 10 helikopter kelas menengah dan digunakan antara lain untuk mendukung penanganan bencana, termasuk kebakaran hutan dan lahan.
TNI AL juga telah mengirim sekitar 100 personel ke Italia untuk mengikuti pelatihan pengoperasian kapal tersebut. Pemerintah menyiapkan sejumlah infrastruktur pendukung, termasuk pangkalan di Teluk Ratai, Lampung. Selain biaya perawatan yang diperkirakan sekitar Rp101 miliar per tahun, kebutuhan bahan bakar berpotensi menjadi komponen biaya lain yang besar.
Setengah Triliun per Tahun
Mantan Kabais Laksamana Muda TNI (Purn.) Soleman B. Ponto bahkan memberi catatan lebih tajam mengenai kapal ini. Dalam analisis dia, kapal ini butuh bahan bakar sekitar 16.000 ton per tahun atau sekitar 18,8 juta liter. Dengan asumsi harga bahan bakar berbeda, biaya tahunan bahan bakar diperkirakan berada pada kisaran Rp258 miliar hingga Rp470 miliar. Pada skenario harga retail Pertamina Dex Rp25.000 per liter, misalnya, kebutuhan 18,8 juta liter akan mencapai sekitar Rp470 miliar per tahun.
Sementara dengan skema kontrak khusus bahan bakar naval grade, biaya diperkirakan sekitar Rp317 miliar per tahun. Adapun skenario yang memaksimalkan penggunaan bunker internasional diperkirakan dapat menekan biaya menjadi sekitar Rp258 miliar per tahun. Angka-angka tersebut merupakan simulasi berdasarkan asumsi konsumsi dan harga bahan bakar, bukan angka resmi yang telah ditetapkan pemerintah untuk operasional Garibaldi.
Jika biaya perawatan sekitar Rp101 miliar per tahun digabung dengan simulasi bahan bakar Rp258-470 miliar, maka kebutuhan rutin untuk dua komponen tersebut saja secara kasar berada pada kisaran Rp359 miliar hingga Rp571 miliar per tahun. Nilai itu belum memasukkan biaya modernisasi, suku cadang, pelatihan, awak, perbaikan besar, serta kebutuhan operasional lainnya.
Karena itu, perhatian terhadap keberlanjutan anggaran menjadi salah satu catatan penting dalam penerimaan kapal tersebut. DPR sebelumnya menegaskan bahwa hibah harus diikuti kesiapan doktrin, sumber daya manusia, industri pertahanan, dan transfer teknologi. Di sisi lain, pemerintah menilai Garibaldi dapat menjadi sarana untuk membangun kemampuan baru TNI AL. Kapal tersebut akan dimodifikasi sesuai kebutuhan Indonesia, dengan keterlibatan industri pertahanan dalam negeri, termasuk PT PAL Indonesia. DPR juga mendorong agar pengalaman mengoperasikan Garibaldi dimanfaatkan untuk meningkatkan penguasaan teknologi kapal perang nasional. (EER)