JAKARTA, AFU.ID — Gempa bumi tektonik bermagnitudo 4,5 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, pada Kamis (3/9/2026) pukul 10.45 Wita. Episenter gempa berada di laut, sekitar 39 kilometer arah timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, dengan kedalaman 8 kilometer. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.
Pusat gempa tercatat pada koordinat 8,42 derajat Lintang Selatan dan 121,55 derajat Bujur Timur. Berdasarkan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, BMKG mengategorikan peristiwa itu sebagai gempa dangkal akibat aktivitas Flores Back-Arc Thrust. Analisis mekanisme sumber menunjukkan gempa memiliki pergerakan geser naik atau oblique thrust.
Guncangan dirasakan dengan skala intensitas III Modified Mercalli Intensity (MMI) di Kabupaten Manggarai dan Nagekeo. Pada skala tersebut, getaran dapat dirasakan nyata oleh banyak orang di dalam rumah seperti ada truk yang melintas. Jendela, pintu, atau dinding juga dapat terdengar bergetar.
Gempa M 4,5 tersebut merupakan bagian dari rangkaian susulan gempa utama M 7,7 yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026. Hingga pukul 11.00 Wita, BMKG mencatat sebanyak 11.704 aktivitas gempa susulan dengan magnitudo terbesar mencapai M 6,2. Aktivitas itu menunjukkan zona sumber gempa masih mengalami penyesuaian lebih dari dua pekan setelah gempa utama.
BMKG menjelaskan jumlah gempa susulan secara umum akan berkurang seiring berjalannya waktu, tetapi penurunannya tidak selalu berlangsung secara konstan setiap hari. “Pola tersebut memperlihatkan bahwa kecenderungan jangka panjang dapat menurun, sementara pada skala harian terjadi naik-turun,” tulis tim BMKG dalam analisis peluruhan gempa Flores. Perubahan jumlah kejadian harian karena itu perlu dilihat sebagai bagian dari tren rangkaian gempa secara keseluruhan.
Gempa utama M 7,7 sebelumnya berpusat sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo dengan kedalaman 15 kilometer. Gempa yang juga dipicu Flores Back-Arc Thrust tersebut sempat memunculkan peringatan dini tsunami untuk sejumlah wilayah di NTT, NTB, dan Sulawesi Selatan. Berbeda dari gempa utama, hasil pemodelan terhadap gempa M 4,5 kali ini tidak menunjukkan potensi tsunami.
BMKG terus memonitor aktivitas gempa susulan dan akan menyampaikan pemutakhiran kepada pemerintah daerah serta masyarakat. Warga diminta tetap tenang, tidak mempercayai informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, dan menghindari bangunan yang retak atau rusak akibat gempa sebelumnya. Informasi kegempaan terbaru diarahkan hanya merujuk pada kanal resmi BMKG. (RHU)