Nikmati fitur lengkap distribusi bias, newsletter, pemberitahuan berita
Gempa M5,3 Guncang Manggarai Timur NTT, Getaran Terasa hingga Labuan Bajo, BMKG: Tidak Berpotensi Tsunami
Bagikan:
Penulis: Raihan Immaduddin
Ringkasan Berita
Gempa bumi berkekuatan 5,3 magnitudo mengguncang wilayah Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Senin pagi, dengan episenter berada 34 kilometer timur laut Ruteng dan kedalaman 10 kilometer. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa ini tidak berpotensi tsunami dan getarannya dirasakan di beberapa daerah, termasuk Labuan Bajo, dengan intensitas terkuat di skala III-IV MMI. Gempa ini merupakan bagian dari rangkaian aktivitas susulan setelah gempa bermagnitudo 7,7 yang terjadi pada 15 Agustus 2026, dan BMKG terus memantau perkembangan serta memberikan informasi kepada masyarakat.
ilustrasi gempa (Dok. Shutterstock)
JAKARTA, AFU.ID — Gempa bumi mengguncang wilayah Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (21/9/2026) pagi. Gempa terjadi pukul 08.41 WIB, berdasarkan laporan awal Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memiliki magnitudo 5,3 dengan episenter berada di daratan 34 kilometer timur laut Ruteng. Getaran gempa tersebut dirasakan di sejumlah wilayah NTT dengan intensitas yang berbeda-beda.
Parameter gempa diperbarui BMKG menjadi magnitudo 5,1 dengan lokasi episenter bergeser menjadi 29 kilometer timur laut Ruteng, tepatnya di wilayah Lamba Leda, Manggarai Timur. Gempa ini tergolong dangkal karena hiposenternya berada pada kedalaman 10 kilometer dan tidak berpotensi menimbulkan tsunami. "Hasil pemodelan tsunami menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami," kata Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG Wijayanto dalam keterangan tertulis.
Getaran paling kuat tercatat pada skala III-IV Modified Mercalli Intensity (MMI) di Manggarai, Bajawa, dan Labuan Bajo. Intensitas II-III MMI dirasakan di Nagekeo dan Waingapu, serta Maumere mengalami getaran dengan skala I-II MMI. BMKG menyebut, gempa tersebut berkaitan dengan aktivitas Flores Back-arc Thrust dan terjadi akibat mekanisme pergerakan turun atau sesar normal.
Gempa ini juga masuk dalam rangkaian aktivitas susulan setelah gempa bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026. "BMKG akan terus memonitor aktivitas gempa bumi susulan serta menyampaikan pemutakhiran informasi kepada stakeholder dan masyarakat," ujar Wijayanto. Pemantauan BMKG hingga Senin (21/9/2026) pukul 05.00 WIB mencatat telah terjadi 17.073 aktivitas gempa susulan dari rangkaian tersebut, dengan magnitudo terbesar mencapai 6,2. Masyarakat di wilayah terdampak diminta tetap tenang sekaligus mewaspadai kemungkinan terjadinya gempa susulan. (RAI)