JAKARTA, AFU.ID — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 118 aktivitas gempa bumi di Kabupaten Bandung dan sekitarnya dalam 38 hari terakhir. Dari jumlah tersebut, 13 gempa dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah. Data BMKG mencatat rangkaian gempa tersebut terjadi sejak 11 Agustus hingga 17 September 2026. Hingga Kamis (17/9/2026) pukul 08.00 WIB, kekuatan gempa yang terdeteksi berkisar magnitudo 1,0 hingga 3,4.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto mengatakan 13 gempa dilaporkan dirasakan warga di Pangalengan, Talegong, Cisewu, dan wilayah sekitarnya. "BMKG mencatat 118 aktivitas gempa bumi dengan kekuatan berkisar M1,0 hingga M3,4. Dari jumlah tersebut, sebanyak 13 kejadian dirasakan masyarakat dengan intensitas II-III MMI," ujar Wijayanto dalam keterangan tertulis.
Getaran dengan intensitas II-III MMI umumnya dirasakan nyata di dalam rumah dan digambarkan seperti sensasi getaran akibat truk yang sedang melintas. Hasil analisis BMKG menunjukkan gempa-gempa tersebut tergolong dangkal. Pusat-pusat gempa juga membentuk pola kelurusan yang mengarah barat daya-timur laut. Secara geografis, pusat aktivitas gempa berada sekitar 5-8 kilometer di sebelah barat Sesar Garsela Segmen Kendang dan di sebelah utara Sesar Garsela Segmen Kencana. "Secara tektonik, gempa bumi tersebut berkaitan dengan aktivitas sesar lokal," kata Wijayanto.
Meski berada di sekitar Sesar Garsela, BMKG memastikan sebaran pusat gempa tidak berada tepat di zona Sesar Garsela Segmen Kendang, Garsela Segmen Kencana, maupun Sesar Cicalengka. Temuan tersebut mengacu pada Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia yang diterbitkan Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGen) pada 2024.
"Sebaran gempa bumi yang terjadi tidak berada pada zona sesar Garsela Segmen Kendang, Garsela Segmen Kencana maupun Sesar Cicalengka, tetapi berada pada area yang belum terpetakan," ujar Wijayanto. Karena itu, BMKG masih memerlukan kajian lebih lanjut untuk mengidentifikasi sumber yang memicu rangkaian aktivitas gempa tersebut.
Untuk memperkuat pemantauan, BMKG mengoperasikan 35 sensor seismik yang tersebar di Jawa Barat. Jaringan tersebut digunakan untuk mendeteksi aktivitas kegempaan, termasuk gempa-gempa kecil. BMKG menyatakan pemantauan terhadap aktivitas gempa di Kabupaten Bandung dan sekitarnya akan terus dilakukan. Masyarakat juga diimbau tetap tenang dan tidak terpengaruh informasi yang belum dapat dipertanggungjawabkan. (FAD)