JAKARTA, AFU.ID — Asap pekat dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyelimuti sebagian besar wilayah Kalimantan Tengah pada Senin (21/9/2026). Tebalnya asap membuat langit berubah oranye dan jarak pandang di sejumlah wilayah hanya sekitar 500 meter. Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan kondisi tersebut terjadi di sejumlah wilayah Kalteng.
Tak hanya mengganggu jarak pandang, asap juga membuat kualitas udara memburuk. Data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan kualitas udara di sejumlah kabupaten/kota masuk kategori berbahaya. Wilayah yang terdampak antara lain Gunung Mas, Murung Raya, Kotawaringin Timur, Kapuas, dan Palangka Raya.
Skala karhutla di Kalteng terlihat dari catatan Posko Pengendalian Bencana Karhutla. Sepanjang 1 Januari hingga 19 September 2026, tercatat sekitar 3.800 kejadian karhutla dengan lebih dari 142.000 hotspot. Luas lahan yang ditangani hampir 13.000 hektare. Sementara analisis citra satelit Kementerian Kehutanan mencatat area terbakar mencapai 7.634 hektare.
Asap pekat juga dilaporkan muncul di sekitar Pos Lapangan Siaga Karhutla Pulang Pisau, Kecamatan Jabiren, Kabupaten Pulang Pisau. Pemprov Kalteng menetapkan status tanggap darurat karhutla sejak 31 Agustus hingga 29 September 2026. Sebanyak 13 kabupaten dan satu kota berstatus tanggap darurat, sedangkan Lamandau masih berstatus siaga darurat.
Di tengah kondisi tersebut, operasi pemadaman tetap berjalan. Namun asap tebal membuat pemadaman dari udara menghadapi kendala jarak pandang. Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengatakan kondisi itu membuat helikopter water bombing tidak bisa menjadi satu-satunya andalan. “Saat ini kita tidak bisa mengandalkan helikopter water bombing. Bukan berarti tidak berguna, tetapi tidak bisa keluar,” ujar Suharyanto dalam rapat evaluasi penanggulangan karhutla di Posko Lapangan Siaga Darurat Karhutla, Kecamatan Tumbang Nusa, Pulang Pisau, Senin (21/9).
Sejumlah helikopter water bombing akhirnya harus siaga di bandara karena kondisi visibilitas tidak memungkinkan untuk terbang. Pemadaman kemudian lebih banyak bertumpu pada operasi darat. Sebanyak 10.700 personel gabungan dari TNI, Polri, BPBPK, BPBD, Manggala Agni, perangkat daerah, relawan, dan ASN dikerahkan untuk menangani karhutla di berbagai wilayah Kalteng. (FAD)