JAKARTA, AFU.ID — Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk atau GOTO kembali menjadi perhatian menjelang perubahan aturan perdagangan di Bursa Efek Indonesia. BEI sedang menyiapkan penurunan batas harga saham dari Rp50 menjadi Rp1. Rencana itu bersinggungan langsung dengan GOTO yang telah bertahan pada harga Rp50 sejak pertengahan Mei 2026.
Perdagangan saham GOTO tertahan di batas harga terendah karena tidak tersedia harga di bawah Rp50 dalam sistem bursa saat ini. Kondisi tersebut membuat ruang pembentukan harga menjadi terbatas ketika antrean jual lebih besar daripada permintaan. Namun, bertahannya saham pada harga Rp50 tidak berarti seluruh permintaan jual telah terserap.
BEI merencanakan dua tahap uji coba perubahan batas harga bersama anggota bursa pada 22 dan 29 Agustus 2026. Implementasi aturan baru ditargetkan berlangsung pada 7 September, tetapi jadwal tersebut masih menunggu keputusan final bursa. Perubahan juga akan diikuti penyesuaian ketentuan auto rejection serta sejumlah kriteria Papan Pemantauan Khusus.
Apabila aturan diterapkan, saham yang berada di level Rp50 dapat diperdagangkan pada harga lebih rendah. Kondisi itu tidak otomatis membuat harga GOTO turun karena pergerakan tetap ditentukan oleh penawaran dan permintaan ketika perdagangan berlangsung. Aturan baru hanya membuka rentang pembentukan harga yang sebelumnya berhenti pada batas Rp50.
Perhatian terhadap GOTO juga meningkat setelah MSCI memutuskan mengeluarkan saham tersebut dari indeks MSCI Indonesia. Perubahan konstituen akan berlaku setelah penutupan perdagangan pada 31 Agustus 2026. MSCI menyebut keputusan tersebut berkaitan dengan persoalan likuiditas karena GOTO diperdagangkan pada harga minimum Rp50 sejak penutupan perdagangan 13 Mei.
Keluarnya suatu saham dari indeks dapat mendorong pengelola dana yang mengikuti indeks tersebut untuk menyesuaikan portofolionya. Meski demikian, besarnya transaksi dan pengaruhnya terhadap harga bergantung pada strategi masing-masing pengelola dana serta kondisi pasar. Penghapusan dari indeks juga tidak sama dengan penghentian perdagangan atau penghapusan pencatatan saham dari BEI.
Dari sisi kinerja perusahaan, GoTo mencatat laba periode berjalan Rp423 miliar sepanjang semester pertama 2026 setelah membukukan kerugian Rp742 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan bersih tumbuh 28 persen menjadi Rp10,99 triliun, sedangkan EBITDA Grup yang disesuaikan mencapai Rp1,92 triliun. Perseroan tetap mempertahankan target EBITDA Grup yang disesuaikan sebesar Rp3,2 triliun hingga Rp3,4 triliun untuk sepanjang 2026.
Investor kini menantikan kepastian aturan baru BEI sekaligus pergerakan GOTO menjelang perubahan indeks MSCI. Perubahan batas harga, penyesuaian indeks, dan kinerja perusahaan merupakan tiga faktor berbeda yang perlu dibaca secara terpisah. Informasi tersebut tidak dapat dipakai sebagai kepastian bahwa harga saham akan bergerak naik maupun turun. (RHU)