JAKARTA, AFU.ID — Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) tidak lahir sebagai organisasi besar sejak awal. Kelompok ini bermula dari inisiatif warga dan tokoh masyarakat Kabupaten Pati, Jawa Tengah, yang mula-mula bergerak dalam skala lokal untuk menyuarakan persoalan-persoalan di daerah mereka. Seiring waktu, gerakan yang semula bersifat kedaerahan ini berkembang ke tingkat nasional dan dikenal luas dengan nama AMPB.
Cikal bakal AMPB tidak lepas dari berbagai persoalan yang membelit Pati, salah satunya kasus hukum yang menjerat mantan Bupati Pati, Sudewo. Kebijakan menaikkan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) yang diberlakukan Sudewo semasa menjabat sempat memantik gelombang protes warga. Riak penolakan itu bahkan sampai mendorong munculnya wacana pemakzulan di DPRD Pati menjelang penghujung 2025, meski usulan tersebut akhirnya kandas.
Rentetan persoalan Sudewo tidak berhenti di isu PBB. Pada 19 Januari 2026, ia diamankan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melalui Operasi Tertangkap Tangan (OTT) di wilayah Pati. Kini ia berstatus tahanan dan tengah menjalani proses hukum atas dugaan pemerasan, suap, serta gratifikasi terkait pengisian jabatan perangkat desa.
Nama AMPB kembali mencuat menjelang Kamis, 27 Agustus 2026, setelah rencana aksi mereka di depan Gedung DPR RI, Jakarta Pusat, terungkap ke publik. Dalam aksi itu, AMPB akan menyuarakan dua tuntutan utama yaitu percepatan pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset, dan penerapan hukuman mati bagi pelaku korupsi.
Menilik Sejarah Kabupaten Pati
Dilansir dari laman Kecamatan Gembong Kabupaten Pati, asal-usul Kabupaten ini berawal dari rencana Kadipaten Paranggarudo menikahkan putranya, Menak Jasari, dengan Dewi Ruyung Wulan, putri Adipati Carangsoko. Karena wajah dan fisik Menak Jasari yang buruk rupa, Dewi Ruyung Wulan sebenarnya menolak perjodohan itu, namun tetap dipaksa menikah oleh orang tuanya. Untuk mengulur waktu sekaligus menggagalkan pernikahan yang tidak dilandasi cinta, ia meminta pesta pernikahannya dimeriahkan pertunjukan wayang kulit yang dibawakan oleh Dalang Soponyono.
Di tengah pergelaran wayang, Dewi Ruyung Wulan justru jatuh cinta kepada Dalang Soponyono dan memilih melarikan diri bersamanya beserta dua adik sang dalang saat suasana digelapkan. Kejadian itu membuat murka Adipati Paranggarudo. Ia akhirnya mengerahkan prajurit untuk memburu mereka hingga meresahkan dan menggeledah rumah-rumah penduduk. Dalam pelariannya, rombongan Soponyono sempat tertangkap mencuri semangka karena kelaparan, namun akhirnya dilindungi oleh Penewu Sukmoyono di wilayah Majasemi.
Perlindungan tersebut memicu pertempuran besar antara pasukan Paranggarudo dan aliansi Majasemi-Carangsoko, yang menewaskan Penewu Sukmoyono serta sejumlah panglima dari kedua belah pihak. Raden Kembangjoyo yang murka atas kematian Sukmoyono berhasil mengalahkan pasukan Paranggarudo dengan pusaka keris Rambut Pinutung dan Kuluk Kanigoro. Kemenangan itu membuat tiga wilayah yang semula bertikai, yaitu Paranggarudo, Carangsoko, dan Majasemi, akhirnya dilebur menjadi satu kadipaten di bawah kepemimpinan Kembangjoyo sebagai Adipati.
Untuk memperluas wilayah kekuasaannya, Kembangjoyo bersama Dalang Soponyono membuka Hutan Kemiri sebagai pusat pemerintahan baru, setelah lebih dulu mengalahkan kerajaan siluman penghuni hutan tersebut. Di tengah pembukaan lahan, mereka bertemu seorang penjual keliling bernama Ki Sagola yang menawarkan minuman dawet berbahan dasar pati aren, santan, dan gula kelapa. Terinspirasi dari nama bahan minuman itu, Kembangjoyo menamai wilayah barunya Kadipaten Pati-Pesantenan, cikal bakal Kabupaten Pati yang kemudian tumbuh menjadi wilayah makmur. (NAD)