JAKARTA, AFU.ID — Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang berlangsung pada 21-22 April 2026 menjadi sorotan utama pelaku pasar. Di tengah tekanan eksternal yang belum mereda, kebijakan moneter BI dituntut untuk menjadi jangkar stabilitas sekaligus motor penggerak ekonomi yang sedang mengejar target pertumbuhan ambisius.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede memprediksi Bank Indonesia (BI) masih akan menahan suku bunga acuan atau BI Rate di level 4,75% . Menurutnya, skenario dasar bank sentral saat ini masih mempertahankan BI Rate di level 4,75%, searah dengan dua pertimbangan utama.
Pertama, pada RDG Maret 2026, BI telah menegaskan bahwa keputusan menahan suku bunga ditujukan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak ketidakpastian global, khususnya akibat konflik di Timur Tengah, sekaligus menjaga sasaran inflasi 2026–2027.
Kedua, BI diperkirakan tetap mempertahankan suku bunga untuk menopang stabilitas rupiah. “Kalau melihat posisi terkini, opsi menahan suku bunga adalah pilihan yang paling masuk akal,” ujar Josua seperti dikutip Kontan, Senin (20/4/2026).
Meskipun inflasi domestik menunjukkan tren melandai, pelemahan nilai tukar Rupiah yang sempat menembus level psikologis Rp 17.000 per dolar AS menjadi alasan utama mengapa mayoritas analis memprediksi BI akan menahan suku bunga acuan (BI Rate) di level 4,75%.
Para analis mengemukakan, ketidakpastian arah kebijakan suku bunga The Fed (Fed Funds Rate) di Amerika Serikat memaksa BI untuk tetap menjaga selisih imbal hasil (yield differential) yang menarik bagi investor asing agar tidak terjadi aliran modal keluar (outflow).
Fokus utama BI saat ini adalah intervensi untuk menahan volatilitas kurs. Jika BI menurunkan bunga terlalu dini sementara dolar AS masih perkasa, risiko pelarian modal akan semakin besar yang pada akhirnya bisa memicu inflasi dari barang impor (imported inflation).
Global Markets Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menilai, penahanan BI Rate dilakukan sebagai upaya menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dan stabilitas inflasi. Penahanan suku bunga juga merupakan respons untuk memastikan momentum pertumbuhan ekonomi tetap terjaga.
“Kenaikan suku bunga jangan sampai mengganggu laju ekspansi ekonomi yang saat ini masih diupayakan tetap agresif. Di sisi lain, inflasi domestik juga dinilai masih relatif terkendali,” ujarnya seperti dikutip Bloomberg Technoz, Selasa (21/4/2026).
Myrdal memprediksi, inflasi berpotensi tetap berada di bawah 3,5% selama tidak ada kenaikan harga energi bersubsidi seperti BBM jenis Pertalite, Solar, LPG 3 kg, maupun tarif dasar listrik. “Kondisi ini menjadi salah satu faktor utama yang membuat BI belum memiliki urgensi untuk mengubah kebijakan suku bunga acuannya,” tambahnya.
Konsekuensi Ekonomi
Suku bunga yang tertahan di level cukup tinggi (4,75%) membawa beberapa konsekuensi bagi struktur ekonomi nasional. Pertama, beban suku bunga kredit tinggi. Perbankan kemungkinan besar belum akan menurunkan suku bunga kredit dalam waktu dekat. Hal ini berdampak pada terbatasnya ekspansi kredit modal kerja bagi pelaku usaha. Sektor manufaktur mungkin akan menunda ekspansi kapasitas produksi karena tingginya biaya pinjaman untuk investasi jangka panjang.
Selain itu, pasar properti dan otomotif diperkirakan akan melambat akibat tingginya suku bunga kredit. Suku bunga kredit yang stabil di level tinggi dapat menahan minat masyarakat dalam melakukan pembelian aset besar (seperti KPR atau otomotif), yang selama ini menjadi kontributor utama pertumbuhan ekonomi.
Suku bunga tinggi yang bertahan lama berpotensi menjerat laba bersih perbankan, karena potensi penurunan permintaan kredit dan kenaikan risiko kredit macet. Meskipun bertujuan menjaga stabilitas, suku bunga tinggi yang bertahan lama dapat membatasi ekspansi bisnis dan memperlambat laju pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan yang dipatok pemerintah di angka 5-5,5%.
Tetapi di sisi lain, penahanan suku bunga di level 4,75% merupakan langkah strategis untuk memperkuat ketahanan eksternal dari dampak konflik geopolitik dan ketidakpastian pasar global, menjaga nilai tukar rupiah agar tidak terdepresiasi lebih lanjut. Tingkat bunga ini dianggap relevan untuk mengendalikan inflasi agar tetap rendah, yaitu dalam kisaran 1,5-3,5 persen.
Mempertimbangkan berbagai dampak yang akan terjadi, Joshua Pardede menilai, potensi penurunan BI Rate pada tahun ini masih terbuka, namun sangat terbatas dan kemungkinan baru terjadi pada akhir tahun dengan sejumlah prasyarat ketat. “Penurunan suku bunga akan sangat bergantung pada perbaikan kondisi eksternal, terutama de-eskalasi konflik di Timur Tengah yang berkelanjutan sehingga mendorong penurunan harga minyak global,” ujarnya.
Selain itu, peluang pelonggaran suku bunga juga akan lebih besar jika arus modal asing kembali masuk, inflasi tetap terkendali, serta bank sentral Amerika Serikat membuka ruang pelonggaran kebijakan moneternya.
MAR