JAKARTA, AFU.ID - Lampu studio menyala tenang. Di meja perbincangan Akbar Faizal Uncensored, suara tak lagi meninggi, tapi isi pembicaraan menukik tajam. Perang tak selalu tentang tank berderap atau pasukan memanggul senjata. Di layar televisi dan linimasa internet, yang terlihat justru ledakan dari langit, titik-titik cahaya yang dipandu satelit, dan kota-kota yang lumpuh oleh gangguan elektronik.
Bersama Andi Widjajanto, diskusi bergerak ke satu istilah kunci: perang asimetrik.
“Kalau simetris, cepat selesai,” kira-kira begitu intinya. Pesawat tempur lawan pesawat tempur. Kapal perang berhadap-hadapan. Rudal dibalas rudal. Dalam skema itu, keunggulan teknologi menjadi penentu mutlak. Amerika Serikat, dengan ribuan armada tempur dan dominasi electronic jammer, disebut berada jauh di atas. Radar bisa dilumpuhkan tanpa perlu peluru ditembakkan. Sistem pertahanan bisa runtuh hanya dengan gangguan elektronik. Bahkan internet satu negara bisa padam dalam hitungan jam.
Dalam perang model ini, kata Andi, tak ada negara yang benar-benar mampu menandingi supremasi teknologi militer Amerika. Jika Iran memilih jalur simetris—mengirim jet tempur melawan jet tempur—perang bisa rampung dalam waktu singkat.
Namun sejarah menunjukkan satu hal: kekuatan besar tak selalu menang ketika lawan memilih jalan berbeda.
Perang asimetrik bekerja di ruang yang tak terduga. Ia tak butuh kemenangan total. Ia hanya butuh satu simbol bahwa “kami belum kalah”. Dalam diskusi itu, contoh yang diangkat bukan lagi dogfight di udara, melainkan kemungkinan satu kapal tenggelam di Selat Hormuz. Satu serangan presisi yang mengguncang persepsi global sudah cukup mengubah narasi.
“Begitu satu kapal tenggelam, persepsinya berubah,” demikian benang merahnya. Pihak yang diserang dianggap gagal menghentikan ancaman. Di situlah kemenangan psikologis bekerja.
Narasi serupa juga menyentuh isu nuklir. Jika tiga fasilitas dihancurkan, tetapi laporan internasional masih menemukan ratusan kilogram uranium yang diperkaya di atas ambang batas sipil, maka pesan yang muncul sederhana: kemampuan itu belum benar-benar hilang. Dalam perang asimetrik, eksistensi lebih penting daripada dominasi.
Perang jenis ini tak melulu diselesaikan dengan senjata. Andi menyebut hampir tak ada perang asimetrik yang dimenangkan sepenuhnya lewat operasi militer. Ujungnya kerap berakhir di meja politik—negosiasi, tekanan diplomatik, atau pergeseran opini publik.
Di studio itu, pembicaraan tak berhenti pada siapa paling kuat, melainkan siapa paling sabar memainkan waktu. Dalam skenario asimetrik, pihak yang lebih lemah tak perlu menang setiap hari. Ia cukup bertahan, memunculkan kejutan, dan menjaga api militansi tetap menyala—entah lewat simbol, entah lewat satu serangan yang tak terduga.
Perang modern, seperti tergambar dalam diskusi tersebut, bukan lagi sekadar soal daya hancur. Ia adalah perang persepsi, perang teknologi, dan perang narasi.
Dan di antara denting istilah militer dan data persenjataan, satu kesimpulan mengendap: kekuatan besar bisa unggul di langit dan laut, tetapi di medan asimetrik, yang dipertaruhkan bukan hanya senjata—melainkan makna dari kata “kalah” itu sendiri. (*)