JAKARTA AFU.ID — Warga di Jalur Gaza, terutama para orang tua terus menghadapi kesulitan berat akibat perang berkepanjangan. Sebagian besar waktu mereka dihabiskan untuk mencari air, makanan, dan kebutuhan hidup sehari-hari.
Meski gencatan senjata antara Hamas dan Israel telah diberlakukan sejak Oktober 2025, dampak konflik yang meletus pada 7 Oktober 2023 masih mengubah kehidupan warga Gaza secara signifikan. Banyak dari mereka kini hidup dalam kondisi pengungsian dan kesulitan bertahan di tengah keterbatasan kebutuhan dasar.
Salah satu di antaranya adalah Salim Othman (37), seorang mantan dosen universitas yang sedang menempuh studi doktoral di bidang ekonomi.
"Kehidupan di Gaza adalah siklus perjuangan untuk bertahan hidup, dan kami (para orang tua) semua terjebak dalam lingkaran setan," ujar Othman, yang mengungsi dari Beit Hanoun di Jalur Gaza utara dan kini tinggal di sebuah tenda di Gaza City.
"Alih-alih menyibukkan diri dengan penelitian dan menyelesaikan studi pascasarjana saya, kini saya justru disibukkan dengan mengantre untuk mendapatkan air dan makanan, serta memenuhi kebutuhan dasar anak-anak saya," tutur Othman.
Selain Othman, ada Saeed Abu Shakoush (39), pria asal Rafah yang kini tinggal di sebuah tenda di Deir al-Balah, menghabiskan hari-harinya di tempat pengungsian sembari berusaha menjaga rutinitas keempat anaknya.
Sebelum konflik terjadi, Shakoush selalu memenuhi kebutuhan pendidikan dan rekreasi anak-anaknya, seperti bermain sepak bola, berhitung cepat, dan bermain catur.
Fokus utama saat ini adalah bertahan hidup untuk jangka pendek, bukan perencanaan jangka panjang, imbuhnya. "Sekarang, saya nyaris tidak bisa memenuhi kebutuhan harian mereka," ujarnya
Di Gaza, kehidupan Mariam Hassan (29) juga mengalami perubahan yang sangat mendalam. Dia kehilangan suami, orang tua, serta saudara-saudaranya akibat serangan udara Israel, menjadikannya sebagai satu-satunya pengasuh bagi ketiga anaknya dan adik perempuannya yang berusia 12 tahun.
"Saya tidak lagi memikirkan diri saya sendiri," kata Hassan kepada Xinhua.
"Setiap hari dimulai dengan pertanyaan yang sama: bagaimana saya akan memberi makan anak-anak saya, dan bagaimana saya bisa menyediakan air atau obat-obatan jika mereka membutuhkannya?" tambahnya.
Hasan menambahkan waktu tidurnya menjadi tidak teratur akibat kelelahan dan rasa takut yang dipicu oleh pengeboman yang terus berlangsung. "Bahkan, hal-hal mendasar pun telah berubah. Porsi makanan harus diperhitungkan dengan cermat, dan seluruh waktu kami tercurah untuk memenuhi kebutuhan pokok. Saya hidup di bawah tekanan yang tiada henti, tetapi saya tidak boleh menyerah," ujarnya.
Terlepas dari segala kesulitan tersebut, Hassan mengatakan anak-anaknya tetap menjadi sumber kekuatan utamanya.
"Terkadang, saya merasa sangat tertekan di dalam hati, tetapi ketika saya melihat mereka, saya terus melangkah. Mereka tidak berdosa dan tidak seharusnya menanggung apa yang sedang terjadi saat ini," tutur wanita itu.
Nourhan Ahmed, seorang pekerja sosial yang bertugas di kamp-kamp pengungsi di seluruh Jalur Gaza, mengatakan kepada Xinhua bahwa konflik berkepanjangan ini telah memberikan beban psikologis dan ekonomi yang sangat besar bagi para orang tua.
"Para orang tua setiap hari berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasar anak-anak mereka, sekaligus berusaha melindungi anak-anak dari trauma psikologis akibat perang," kata Ahmed.
"Para orang tua terus-menerus menyeimbangkan antara tuntutan untuk bertahan hidup dan memberikan perhatian emosional, meskipun mereka sendiri mengalami penderitaan yang sama seperti anak-anak mereka. Hal ini secara signifikan menambah tingkat stres dan memperdalam ketidakpastian mengenai masa depan," tambah Ahmed. (ANT/RAI)