JAKARTA, AFU.ID — Iran mengecam keras serangan Amerika Serikat (AS) terhadap sebuah rumah warga di Kuhestak, Sirik, Provinsi Hormozgan, yang disebut tengah menjadi tempat berkumpulnya keluarga untuk menghadiri acara pernikahan. Pemerintah Iran menyebut lebih dari 50 orang tewas atau terluka dalam serangan tersebut. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei menyampaikan kecaman itu melalui akun X miliknya pada Rabu (2/9/2026) dini hari. Ia menyebut serangan tersebut sebagai bagian dari rangkaian tindakan AS yang menargetkan warga sipil Iran.
Baqaei mengatakan serangan terjadi ketika keluarga sedang merayakan pernikahan. Menurut dia, lebih dari 50 pria, perempuan, dan anak-anak menjadi korban dalam serangan tersebut. “Amerika Serikat telah melengkapi daftar kekejamannya terhadap rakyat Iran. Sebuah rumah warga di Kuhestak, Sirik, diserang secara brutal ketika keluarga sedang merayakan pernikahan,” kata Baqaei, seperti dikutip Tasnim, Rabu (2/9/2026).
Baqaei menyebut serangan tersebut tidak dapat dipisahkan dari serangkaian serangan sebelumnya di Minab, Lamerd, Qeshm, dan sejumlah wilayah lainnya. Dia juga menuding AS memberikan pembenaran yang menyesatkan terhadap serangan-serangan yang dilakukan terhadap berbagai target militer Iran.
Menurut Baqaei, persoalan yang lebih berbahaya bukan hanya serangan itu sendiri, melainkan potensi normalisasi kekerasan terhadap warga sipil. “Yang lebih berbahaya daripada bom itu sendiri adalah normalisasi pengeboman. Lebih berbahaya daripada keheningan adalah ketika keheningan berubah menjadi legitimasi,” ujarnya.
Baqaei menegaskan Iran akan memberikan respons terhadap apa yang disebutnya sebagai kejahatan terhadap warga sipil. “Iran akan merespons kejahatan-kejahatan biadab ini dengan tegas,” kata dia. Dia juga memperingatkan negara-negara dan lembaga internasional yang memilih diam atau berusaha membenarkan serangan tersebut.
Baqaei menilai sikap diam dalam menghadapi serangan yang dianggap melanggar hukum internasional tidak dapat disebut sebagai bentuk netralitas. Menurut dia, pembiaran terhadap tindakan tersebut justru berpotensi menghilangkan batas antara kecaman terhadap kejahatan dan penerimaan terhadap kejahatan itu sendiri. “Berpaling dari ketidakadilan tidak akan menghentikannya. Sikap itu hanya akan membuat para pelaku semakin berani,” kata Baqaei. (EER)