JAKARTA, AFU.ID - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mendesak pasukan asing yang berada di sekitar wilayah Iran untuk pergi. Pernyataan itu disampaikan setelah Amerika Serikat menuding Iran menembak jatuh helikopter AH-64 Apache milik militer AS di lepas pantai Oman.
Araghchi mengatakan keberadaan pasukan asing di sekitar Iran justru memperbesar risiko bentrokan dan salah perhitungan.
“Pasukan asing di sekitar wilayah kami selalu berisiko karena kesalahan mereka sendiri, kecelakaan biasa, atau berpotensi terjebak dalam baku tembak. Untuk mengurangi risikonya, solusi terbaik adalah dengan mereka pergi,” kata Araghchi melalui akun X, Selasa (9/6/2026).
Ia menegaskan Iran tetap memilih jalur diplomasi. Namun, Teheran juga memperingatkan dapat menggunakan cara lain apabila wilayahnya dilanggar.
“Kami lebih menyukai upaya diplomasi, tetapi juga berbicara dalam bahasa lain,” ujarnya.
Pernyataan itu muncul setelah Presiden AS Donald Trump pada Senin (8/6/2026) menyebut helikopter Apache AS yang jatuh di lepas pantai Oman ditembak jatuh oleh Iran. Trump mengatakan AS perlu merespons insiden tersebut.
Komando Pusat AS menyatakan helikopter itu jatuh saat berpatroli di kawasan perairan regional. Dua pilot berhasil diselamatkan dan dilaporkan dalam kondisi stabil.
Araghchi membantah posisi AS di kawasan tersebut. Ia menyebut Selat Hormuz bukan perairan internasional dan berada jauh dari pantai Amerika Serikat.
Menurut dia, angkatan bersenjata Iran selalu siaga terhadap setiap pelanggaran wilayah udara Iran.
Ketegangan juga melebar setelah Iran menuding Amerika Serikat melakukan operasi pengelabuan terkait serangan drone ke Bandara Internasional Kuwait.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei mengeklaim serangan itu dilakukan untuk menciptakan alasan bagi AS menjual sistem pertahanan udara anti-drone kepada Kuwait.
Namun, klaim Iran tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Sebelumnya, Kementerian Pertahanan Kuwait menyatakan terminal penumpang Bandara Internasional Kuwait mengalami kerusakan parah akibat serangan drone. Kementerian Kesehatan Kuwait melaporkan lebih dari 60 orang terluka dalam insiden tersebut.
Juru Bicara Korps Garda Revolusi Islam Iran Hossein Mohebbi membantah militer Iran menembakkan rudal ke arah terminal bandara Kuwait. Ia menyebut kerusakan itu terjadi akibat kesalahan operasional sistem pertahanan udara Patriot.
Rangkaian tudingan itu menunjukkan ketegangan Iran dan Amerika Serikat di kawasan Teluk belum mereda. Insiden jatuhnya helikopter AS dan serangan terhadap Bandara Kuwait membuat risiko konflik melebar ke negara-negara sekitar Iran. (RHU)