Nikmati fitur lengkap distribusi bias, newsletter, pemberitahuan berita
Pemeran Teroris Kenakan Keffiyeh Khas Muslim, Latihan Antiteror Jepang Tuai Kritik, Ini Klarifikasi Pemerintah
Bagikan:
Penulis: Raihan Immaduddin
Ringkasan Berita
Latihan antiterorisme yang diselenggarakan Jepang pada 10 September 2026 menuai kritik setelah pemeran teroris mengenakan keffiyeh, atribut yang dianggap memperkuat stereotip negatif terhadap masyarakat Arab dan Muslim. Meskipun Kementerian Luar Negeri Jepang menyatakan bahwa kostum tersebut tidak dimaksudkan untuk menggambarkan kelompok etnis atau agama tertentu, mereka menghapus foto-foto latihan tersebut setelah munculnya kritik di media sosial. Menteri Luar Negeri Toshimitsu Motegi menegaskan pentingnya latihan ini untuk melindungi warga Jepang di luar negeri, dan kementerian akan lebih berhati-hati dalam menyampaikan informasi di masa depan.
JAKARTA, AFU.ID — Latihan antiterorisme yang digelar Jepang pada 10 September 2026 menuai berbagai kritik setelah personel yang memerankan teroris terlihat mengenakan penutup kepala keffiyeh khas Arab. Penggunaan atribut tersebut memicu kritik karena dianggap dapat memperkuat gambaran stereotip yang menghubungkan masyarakat Arab atau Muslim dengan terorisme. Foto-foto latihan yang sempat dipublikasikan Kementerian Luar Negeri Jepang itu akhirnya dihapus menyusul munculnya berbagai tanggapan.
Salah satu foto memperlihatkan pemeran teroris menggunakan keffiyeh tengah menyandera dan menutupi kepala seseorang peserta simulasi. Kritik bermunculan di media sosial, termasuk anggapan bahwa pakaian itu terlalu dekat dengan simbol budaya tertentu untuk digunakan sebagai gambaran karakter teroris. Sejumlah pengguna bahkan meminta kementerian meminta maaf dan menghapus materi latihan tersebut.
Salah satu kritik muncul dari warganet di X yang menulis, "Teroris sesungguhnya tidak akan berpakaian mencolok seperti itu di tengah kota." Komentar lain menyatakan, "Hal yang sangat memalukan. Dilihat dari sejarah, serangan teroris paling terkenal di Jepang dilakukan oleh orang Jepang sendiri," tulis akun YamamotoMino.
Kementerian Luar Negeri Jepang menyatakan kostum maupun pemeran dalam latihan itu tidak dimaksudkan untuk menggambarkan kelompok etnis, wilayah, atau agama tertentu. Kementerian mengatakan pemeran terdiri atas warga Jepang dan warga asing, sehingga tidak ada maksud mengaitkan karakter dalam simulasi dengan identitas tertentu, serta menyampaikan penyesalan apabila muncul kesalahpahaman. “Jika telah terjadi kesalahpahaman, hal tersebut sama sekali bukan maksud kami,” demikian penjelasan kementerian dalam klarifikasinya.
Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegimerespons kontroversi tersebut dalam konferensi pers dengan mengatakan, pemerintah mendengarkan berbagai pendapat yang disampaikan warga baik secara langsung maupun di media sosial. Ia menegaskan latihan tetap diperlukan untuk meningkatkan perlindungan terhadap warga Jepang yang berada atau bepergian ke luar negeri. “Kami menanggapi berbagai pendapat dengan serius,” ujar Motegi, seraya menyebut kementeriannya akan lebih berhati-hati dalam menyampaikan informasi dan memberikan penjelasan.
Latihan tersebut digelar di fasilitas pemerintah di Tokyo dan telah dilakukan secara rutin sejak 2018 sebagai bagian dari persiapan menghadapi ancaman terhadap warga Jepang di luar negeri. Simulasi ini mengambil pelajaran dari serangan terhadap Holey Artisan Cafe di Dhaka, Bangladesh, pada Juli 2016 yang menewaskan 22 orang, termasuk sejumlah besar warga Jepang. Kementerian menyebut perlindungan warga Jepang di luar negeri sebagai salah satu tanggung jawab utamanya di tengah ancaman keamanan yang semakin beragam. (RAI)