JAKARTA, AFU.ID — Jepang kembali mencatat rekor jumlah penduduk berusia 100 tahun atau lebih. Tahun ini, jumlahnya 107.677 orang, pada 2025 jumlahnya bertambah 7.914 orang. Sesuai catatan kementerian setempat, jumlah itu menjadi catatan tertinggi selama 56 tahun. Menariknya, 88 persen warga lansia itu berjenis kelamain perempuan. Menteri Kesehatan Jepang Kenichiro Ueno mengatakan peningkatan jumlah warga berusia panjang merupakan hal yang menggembirakan. “Sangat menyenangkan bahwa banyak orang hidup panjang, sehat, dan aktif,” kata Ueno, seperti dikutip Al Jazeera, Minggu (20/9/2026).
Meningkatnya angka harapan hidup masyarakat Jepang, kata dia, dipengaruhi oleh kemajuan teknologi medis, pola hidup, serta pola makan masyarakat. Harapan hidup tinggi bukan tanpa masalah. Disparitas usia di Jepang mengkhawatirkan. Saat ini, penduduk berusia 65 tahun atau lebih jumlahnya mencapai 10 persen dari total penduduk. Trennya terus naik, pada 2070 diprediksi mencapai 40 persen.
Pada 2025, lebih dari 800.000 orang di Jepang berusia 95 tahun atau lebih. Tetapi, jumlah bayi yang lahir hanya sekitar 700.000 orang. Kondisi tersebut membuat populasi Jepang terus turun. Populasi Jepang sendiri mencapai puncaknya sekitar 128 juta jiwa pada 2008. Institut Nasional Kependudukan dan Riset Keamanan Sosial Jepang memproyeksikan jumlah tersebut turun menjadi sekitar 87 juta jiwa pada 2070, atau menyusut sekitar 30 persen.
Lantas, apa yang membuat warga Jepang mampu mencapai usia 100 tahun? Jawabannya tidak tunggal. Kombinasi pola makan, aktivitas fisik, serta akses terhadap layanan kesehatan memegang peran penting. Pola makan tradisional Jepang umumnya banyak mengandung ikan, sayuran, dan nasi serta relatif rendah lemak jenuh. Tingkat obesitas di Jepang juga jauh lebih rendah dibandingkan sejumlah negara Barat.
Aktivitas sehari-hari turut berperan. Masyarakat Jepang terbiasa berjalan kaki, bersepeda, dan menggunakan transportasi umum, termasuk mereka yang sudah lanjut usia. Aktivitas olahraga bersama juga cukup umum dilakukan. Selain itu, Jepang memiliki sistem asuransi kesehatan universal yang memberikan akses luas terhadap layanan medis dan obat-obatan dengan biaya relatif terjangkau. Namun, umur panjang sekaligus menjadi tantangan ketika angka kelahiran terus menurun.
Tingkat fertilitas total Jepang turun ke rekor terendah, yakni 1,14 pada 2025. Angka sekitar 2,1 anak per perempuan umumnya dibutuhkan untuk mempertahankan jumlah penduduk dalam jangka panjang tanpa mengandalkan tambahan penduduk usia produktif dari luar negeri.
Semakin banyak penduduk lanjut usia berarti semakin besar kebutuhan terhadap dana pensiun, layanan kesehatan, dan perawatan lansia. Pada saat bersamaan, jumlah penduduk usia produktif yang menopang sistem tersebut terus menyusut. Pemerintah Jepang telah memberikan berbagai insentif untuk meningkatkan angka kelahiran, mulai dari tunjangan anak, subsidi pengasuhan, hingga program cuti orang tua. Namun, kebijakan tersebut sejauh ini belum membalikkan tren penurunan kelahiran.
Kekurangan tenaga kerja juga terjadi di berbagai sektor, mulai dari konstruksi, pertanian, transportasi, kesehatan hingga layanan perawatan lansia. Masalah tersebut bahkan lebih terasa di daerah pedesaan. Perpindahan penduduk muda ke kota membuat sejumlah komunitas pedesaan semakin menua, sementara jumlah pekerja dan layanan publik terus berkurang. Jepang memang mulai mengandalkan pekerja asing untuk membantu mengatasi kekurangan tenaga kerja. Namun, warga negara asing masih hanya sekitar 3 persen dari total populasi Jepang.
Fenomena Jepang sebenarnya merupakan bagian dari tren global. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat angka harapan hidup global mencapai 73,3 tahun pada 2024, meningkat 8,4 tahun dibandingkan 1995. Jumlah penduduk dunia berusia 60 tahun atau lebih juga diproyeksikan meningkat dari 1,1 miliar orang pada 2023 menjadi 1,4 miliar pada 2030. Namun, proses penuaan penduduk berlangsung lebih cepat di sejumlah negara. Pada 2023, usia median penduduk Jepang mencapai 49 tahun. Italia berada di posisi berikutnya dengan 47,5 tahun, disusul Portugal 46,2 tahun, Yunani 45,7 tahun, dan Jerman 45,1 tahun. (EER)