JAKARTA, AFU.ID — Sebanyak 18 sampai 23 persen penduduk Lebanon membutuhkan bantuan pangan setelah perang dengan Israel merusak sektor pertanian negara itu. Menteri Pertanian Lebanon Nizar Hani menyebut dampak perang telah memukul lahan, produksi, rantai pasok, dan harga pangan.
Data lembaga pangan internasional menunjukkan tekanan itu sudah masuk fase serius. WFP menyebut 1,24 juta orang di Lebanon, atau hampir seperempat populasi yang dianalisis, diproyeksikan menghadapi kerawanan pangan akut pada April sampai Agustus 2026.
Hani mengatakan perang berdampak langsung maupun tidak langsung terhadap sekitar 56.000 hektare lahan. Angka itu setara dengan sekitar 22,5 persen lahan pertanian Lebanon.
Kerusakan paling berat terjadi di Lebanon selatan. Di wilayah itu, 78 persen petani disebut terpaksa meninggalkan lahan pertanian akibat pertempuran.
“Hal ini menyebabkan terhentinya produksi pertanian dan berdampak negatif terhadap perekonomian lokal maupun nasional,” kata Hani kepada RIA Novosti.
Kerusakan pertanian juga mengganggu rantai pasok dan volume pasar. Dampaknya terasa pada komoditas pertanian, terutama buah-buahan sitrus.
Pemerintah Lebanon menyiapkan program pengembangan pertanian jangka panjang untuk periode 2026 sampai 2036. Program itu mencakup penerapan teknologi modern dan digitalisasi sektor pertanian.
Lebanon juga menjalankan kerja sama dengan China untuk penggunaan drone di sektor pertanian. Teknologi itu dipakai untuk memantau penyakit tanaman, kondisi hutan, dan penerapan produk perlindungan tanaman secara presisi.
Krisis pangan Lebanon terjadi saat pertempuran belum sepenuhnya berhenti. Reuters melaporkan Israel masih menyerang Lebanon selatan setelah menahan serangan ke Beirut, meski Amerika Serikat mendorong deeskalasi antara Israel dan Hezbollah.
Kasus Lebanon menunjukkan perang tidak hanya menghancurkan permukiman dan infrastruktur. Ketika lahan rusak dan petani meninggalkan kebun, dampaknya bergerak ke meja makan warga, harga pangan, dan ketahanan ekonomi nasional. (RHU)