JAKARTA, AFU.ID — Setelah lebih dari 53 tahun sejak pertama kali ditemukan pada 1973, Blok Gas Natuna D-Alpha akhirnya mendapatkan pengelola baru. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Surat Keputusan Menteri ESDM Nomor 108.K/MG.4/DJM/2026 tertanggal, Kamis, (17/09/26) menetapkan PT Nations Petroleum sebagai pemenang lelang Wilayah Kerja (WK) migas Natuna D-Alpha dalam Lelang Wilayah Kerja Migas Tahap I Tahun 2026.
Natuna D-Alpha merupakan salah satu aset migas terbesar yang dimiliki Indonesia. Lapangan gas tersebut pertama kali ditemukan oleh perusahaan migas Italia AGIP pada 1973 dan selama bertahun-tahun dikenal menyimpan cadangan gas dalam jumlah sangat besar. Namun hingga kini, blok tersebut belum pernah berhasil masuk tahap produksi komersial.
Dalam pengumuman resmi Kementerian ESDM, PT Nations Petroleum memenangkan Natuna D-Alpha melalui mekanisme penawaran langsung. Perusahaan tersebut menawarkan komitmen pasti tiga tahun pertama sebesar 103,309 juta dolar AS atau sekitar Rp1,83 triliun, serta bonus tanda tangan sebesar 200 ribu dolar AS. Nilai tersebut menjadi salah satu komitmen investasi terbesar dalam pengumuman lelang WK migas tahun ini.
Perjalanan Natuna D-Alpha tidak pernah mudah. Pada 1980, hak pengelolaan wilayah tersebut berada di tangan ExxonMobil. Namun proyek tidak berkembang karena tingginya kandungan karbon dioksida (CO₂) dalam cadangan gas yang membuat biaya pengolahan menjadi sangat mahal dan sulit mencapai nilai ekonomi yang memadai.
Setelah kontrak ExxonMobil dihentikan pemerintah pada 2007, pengelolaan blok tersebut dialihkan kepada PT Pertamina (Persero) pada 2008. Pertamina kemudian membentuk konsorsium bersama ExxonMobil, Total, dan Petronas untuk mengembangkan kawasan yang dikenal sebagai East Natuna. Meski melibatkan sejumlah perusahaan energi besar dunia, proyek tersebut tetap tidak mampu mencapai tahap produksi komersial.
Pada 2017, konsorsium East Natuna berakhir tanpa hasil pengembangan yang signifikan. Sementara pada 2022, Pertamina mengembalikan proyek tersebut kepada pemerintah karena kebutuhan investasi yang sangat besar serta tantangan teknologi yang dinilai belum ekonomis. Sejak saat itu, Natuna kembali berada di tangan pemerintah sambil menunggu skema pengembangan baru.
Untuk menarik investor, pemerintah kemudian memecah East Natuna menjadi tiga wilayah kerja berbeda, yakni Arwana-Barakuda, Natuna D-Alpha, dan Paus. Strategi tersebut ditempuh agar masing-masing wilayah kerja dapat dikembangkan secara lebih fleksibel dan memiliki daya tarik investasi yang lebih tinggi dibandingkan mempertahankan blok raksasa seperti sebelumnya.
Saat masih menjabat Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Tutuka Ariadji pernah menyebut Natuna D-Alpha memiliki cadangan sekitar 46 triliun kaki kubik (TCF) gas. Jumlah tersebut bahkan disebut lebih besar dibandingkan cadangan yang dimiliki Blok Masela. Namun besarnya cadangan tersebut selama puluhan tahun tetap belum mampu mengatasi persoalan utama proyek, yakni kandungan karbon dioksida yang sangat tinggi dan kebutuhan investasi yang sangat besar.
PT Nations Petroleum sendiri merupakan perusahaan migas yang berada di bawah Arsari Group milik Hashim Djojohadikusumo, adik Presiden Prabowo Subianto. Dengan penetapan pemenang lelang pada 17 September 2026, Natuna D-Alpha memasuki babak baru setelah lebih dari setengah abad berada dalam daftar proyek migas yang belum berhasil dikembangkan secara komersial. (RHU)